Di dalam mobil mewah yang dikirim khusus oleh Dialta untuk menjemput mereka, suasana terasa hening namun sarat akan ketegangan yang manis. Praditya duduk dengan tegak, sesekali memeriksa berkas di tabletnya, sementara Amindita memilih menyandarkan kepalanya ke kaca jendela, mencoba mengalihkan rasa perih yang masih berdenyut di area bawahnya. Setiap kali mobil melewati polisi tidur atau jalanan yang sedikit tidak rata, Amindita secara refleks meremas rok kainnya dan menggigit bibir bawahnya, menahan ringisan agar tidak terdengar oleh sopir di depan. Praditya, meskipun matanya tertuju pada layar digital, tidak pernah benar-benar lepas memperhatikan gerak-gerik istrinya. Ia meletakkan tabletnya di jok samping, lalu tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, tangan besarnya merayap masuk ke bawah

