Di sebuah rumah mewah namun nerbeda dengan rumahnya djlu dengan Mahendra di kawasan Jakarta Pusat yang berlantai marmer dingin, Gayatri Ararya duduk di kursi kebesarannya dengan keanggunan yang mengintimidasi. Ia menyesap teh kamomilnya perlahan, namun tatapannya tajam menghujam dua orang pria berjas hitam yang berdiri kaku di hadapannya. Sebagai pemimpin yang terbiasa memegang kendali, ia tidak menyukai ketidakpastian, terutama menyangkut "gangguan" yang ia anggap telah merusak tatanan keluarga Ararya. "Jadi, bagaimana?" suara Gayatri memecah keheningan ruangan, terdengar halus namun berwibawa. "Di mana perempuan itu bersembunyi? Saya harap kalian tidak membawa kabar bahwa dia menghilang lagi seperti tikus selokan." Salah satu anak buahnya, yang bertugas memantau pergerakan di Jawa Timu

