Di sebuah teras rumah yang terletak tepat di seberang kediaman Pak Broto, beberapa wanita paruh baya berkumpul dengan piring-piring kecil berisi camilan di pangkuan mereka. Namun, bukan camilan itu yang menjadi hidangan utama, melainkan gosip hangat yang dipicu oleh kedatangan mobil mewah di depan rumah sederhana Pak Broto. Di tengah lingkaran itu, Ibunya Bagaswara duduk dengan wajah masam, tangannya sibuk mengipasi lehernya meskipun udara Batu sedang sejuk-sejuknya. Sejak dulu, ia memang menyimpan rasa tidak suka yang tak beralasan pada keluarga Brotoadmodjo, sebuah bentuk iri dengki yang berakar dari masa lalu. "Sopo yo wong lanang seng teko mbe mobil apik maeng?" (Siapa ya laki-laki yang datang pakai mobil bagus tadi?) cetus salah satu tetangga dengan mata yang terus melirik ke arah S

