42

1036 Kata

Praditya mencengkeram setir mobilnya hingga membuat buku-buku jari memutih. Sorot lampu supercar-nya membelah kegelapan gang yang semakin menyempit, memantul pada dinding-dinding kusam dan deretan motor yang parkir sembarangan. Ia harus ekstra hati-hati mengemudikan mobil rendah ini agar kolongnya tidak terantuk aspal yang tidak rata. Sial. Bau alkohol tipis masih tercium dari napasnya, namun kesadarannya masih terjaga penuh. Beberapa gelas whiskey tadi tidak cukup untuk menumbangkan akal sehatnya, tapi cukup untuk membakar keberaniannya yang sempat padam oleh d******i sang Ibu. "Kenapa kau harus pulang ke tempat seperti ini, Dita?" gumam Praditya rendah. Matanya menyapu deretan kontrakan sempit yang menurutnya sama sekali tidak layak huni. Baginya, tempat ini kotor, pengap, dan jauh

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN