Pagi harinya, suasana di lantai eksekutif Ararya Group kembali ke suasana korporasi yang sibuk dan dingin. Sinar matahari pagi menembus kaca besar ruang CEO, menyinari sosok Praditya yang sudah berdiri tegap menghadap jendela, membelakangi meja kerjanya. Setelan jas tiga potongnya terpasang sempurna tanpa cela, namun guratan di wajahnya menunjukkan bahwa pria itu sama sekali belum mengendurkan kewaspadaannya sejak teror jam tiga pagi tadi. Tok! Tok! Pintu diketuk dua kali sebelum Wira melangkah masuk dengan raut wajah serius, membawa sebuah map kulit hitam tebal dan tablet digitalnya. Tanpa perlu dipersilakan, Wira langsung mengunci pintu ruang CEO dari dalam agar obrolan mereka tidak bocor. Praditya membalikkan tubuhnya, melangkah perlahan menuju meja kebesarannya dengan tatapan mata

