Keheningan malam masih membungkus kamar utama mansion Ararya ketika jam dinding digital menunjukkan pukul tiga dini hari. Praditya tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Entah mengapa, sisa-sisa ketegangan dari rangkaian kejadian siang tadi membuat tidurnya tidak begitu nyenyak. Ia memiringkan tubuh tegapnya, menatap lekat sosok wanita yang paling dicintainya yang masih terlelap damai di sampingnya. Amindita tertidur dengan napas yang teratur, memeluk guling dengan selimut yang membungkus rapi tubuh berisinya. Praditya mengulas senyum tipis yang sangat tulus. Ia mengulurkan tangan besarnya, mengelus lembut pipi chubby istrinya yang menghangat, menyalurkan rasa sayang yang teramat dalam tanpa ingin mengusik mimpi indah sang istri. Namun, kedamaian itu seketika terusik. Bzzz... Bzzz... Layar

