Tiga tahun telah berlalu. Mansion Ararya kini tidak lagi didominasi oleh kesunyian yang mencekam atau aura dingin sang CEO. Suasana rumah itu kini penuh dengan warna-warni mainan yang berserakan, suara tawa yang nyaring, dan tentu saja—pertengkaran kecil antara dua wanita kesayangan Praditya. Pagi itu, di dapur luas mansion, Amindita sedang sibuk menyeduh teh sementara Praditya baru saja turun dari ruang kerjanya. Melihat istrinya yang tampak sibuk, Praditya berjalan mendekat dan melingkarkan lengannya di pinggang Amindita, lalu mendaratkan dagunya di bahu sang istri. "Pagi, Sayang," bisik Praditya lembut, mencium pipi Amindita dengan kasih sayang yang tak pernah luntur, malah semakin bertambah. Baru saja Amindita hendak membalas senyuman suaminya, sebuah suara cempreng nan menggemaska
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


