Sekitar pukul tujuh malam Keyra baru menyelesaikan semua pekerjaannya. Ini bukan kali pertama dia lembur, tetapi tetap saja tubuhnya terasa lelah. Ingin rasanya dia pulang, mandi, lalu tidur. Tapi sialnya ada yang mengganjal hati dan otaknya sejak tadi. Bukan perkara pekerjaan, bukan pula Bian yang memintanya datang secara mendadak. Keyra hanya bingung bagaimana dia menjelaskan kepada Airin soal mobil yang akan dia bawa pulang. Bukan terkesan masalah sulit memang, bahkan Bian bilang mobil itu diberikan sebagai fasilitas kantor. Tapi sialnya tetap saja kepalanya pening. "Mbak Keyra." Sapaan itu membuat Keyra terlonjak kaget. Boleh saja dia kaget karena sejak tadi asik melamun sambil menatap mobil di depannya. Sambil mengusap d**a Keyra menoleh ke arah samping, arah di mana sumber suara b

