“Kamu perlu ke rumah sakit? Kalau memang iya aku siap antar sekarang juga.” Keyra menggelengkan kepalanya lemah. “Aku baik-baik aja, Raf, aku gapapa. Aku cuma demam biasa karna kehujanan. Lagipula ini salahku juga kok.” Ini bukan penolakan pertama, melainkan yang kesekian. Maka dari itu Rafael tidak lagi memaksa. Karena sekali wanita itu bilang tidak, ya selamanya akan tetap seperti itu. Rafael menghembuskan napasnya perlahan. Walaupun begitu tangan Rafael masih sibuk mengompres kening Keyra. Tatapan Keyra beralih dari Rafael ke atas. Hatinya masih tetap kosong, dia tidak merasakan apapun. bahkan rasa tidak enak pada tubuhnya kalah dengan hati. Sungguh Keyra tidak bisa membayangkan hidup kedepannya akan seperti apa. Entah dia akan bisa atau tidak untuk bangkit. “Key, kamu jangan kayak

