“Lepas, turunin!” Tidak perduli tatapan orang, tidak perduli teriakan serta pukulan di punggung, Bian tetap melanjutkan jalannya. Saat ini pria itu menggendong paksa Keyra. Langkah itu Bian ambil karena Keyra tidak mau nurut dengan perintahnya. Ting! Bian ke luar dari dalam lift menuju kamarnya. Sesampainya di dalam kamar dia menghempas tubuh ramping Keyra ke atas kasur. Keyra menatap Bian dengan air mata yang terus mengalir. Sebetulnya dia tidak ingin menangis, tetapi hatinya sangat sesak. “Kenapa kamu bawa aku ke sini? Aku ngga mau ke sini!” Keyra beringsut turun dari atas kasur. Dengan tergesa dia menuju pintu seraya membukanya paksa. Akan tetapi usaha Keyra sia-sia karena pintu terkunci. Melihat itu Bian hanya diam memperhatikan. Walaupun sudah tahu terkunci, wanita itu tetap saja

