Saat menunggu adalah hal paling menyakitkan, tidak lebih sakit jika menunggu sang suami yang tak kunjung pulang. Pukul dua malam, Zia masih terjaga dan Dirga yang ia cemaskan tak juga kembali. Kemudian memutuskan untuk menghubunginya tapi tidak aktif. "Mas, kamu kemana, sih!" Zia menjadi kesal. Ponsel yang ia genggam itu ia lempar ke kasur, kemudian ia langkahkan kakinya menuju ruang tamu. Sepertinya menunggu disana lebih baik agar bisa menyidang pria itu langsung jika datang nanti. Namun penantian hanyalah penantian. Dirga yang diharapkan tidak kembali dan Zia ketiduran. Malam itu, istri yang sedang hamil itu tidur di sofa tamu, berdua dengan penantiannya. Tepat pukul tujuh pagi, Lia terkejut mendapati Zia di tidur di sofa. "Kukira Tuan Mahendra," gumam Lia kemudian menghampiri sa

