Prolog
"Aku mencintaimu.”
Lirihan Ganesha membuat manik mata pria di depannya terbuka. Mengerjap sesaat sebelum pria itu menatapi sekitar dan menghela napas berat.
“Mulai sekarang kita akan selalu bersama. Ya ‘kan pak Kenan?” kali ini suara Ganesha diiringi tawa pelan. Sama sekali tak menyangka bahwa dosen muda di kampusnya telah membuatnya jatuh cinta. Jatuh cinta teramat dalam sampai melanggar batasan.
“Iya ‘kan, Sayang?”
Ganesha Semakin menyamankan posisi di pelukan Kenan yang semalam suntuk mengungkung tubuhnya. Membuatnya terjerat ke dalam pusara gairah yang teramat panjang dan melelahkan.
“Sebaiknya kamu pulang.”
3 kata yang pria itu ucapkan, tentu membuat Nesha tercekat. Dibuat terkejut sesaat sebelum tawa pelannya kembali terdengar. “Aku bahkan belum berpakaian, pak Dosen.”
“Aku serius dengan perkataanku, Ganesha.” Suara Kenan meninggi. Pria itu bahkan mendorong tubuh Ganesha sebelum bangkit. “dan mari lupakan semua ini.”
“A—apa yang kamu katakan?” meremas selimut yang membungkus tubuhnya, Ganesha menyusul Kenan yang saat ini memunguti pakaian di lantai kemudian memakainya. “apa maksudnya melupakan semua ini, Kenan?”
Kenan menunjukkan raut wajah tak ramah. Sangat berbeda dengan Kenan sebelumnya dan Nesha mulai gemetar ketakutan.
“Ini salah, Ganesha. Hubungan ini tidak benar dan aku tidak pernah menaruh perasaan.”
Apa?
Tidak menaruh perasaan katanya?
Nesha meraih kerah kemeja Kenan kemudian menyentak kuat. “Apa maksudnya tidak menaruh perasaan? Apa maksudnya tidak benar jika hubungan kita sudah sejauh ini, Kenan? Kamu tidak lupa ‘kan apa yang kita lakukan semalam?”
Cup!
Ganesha mendaratkan kecupan di bibir Kenan yang terbuka. Sama sekali tak berpikir bahwa dia tidak seharusnya merendah seperti ini. Namun, perasaannya telah jatuh teramat dalam dan dia tidak mau berakhir menyakitkan.
“Bagaimana? Apakah kamu merasakan jantungmu berdebar? Apakah ada perasaan berbeda?” Ganesha sekali lagi mendaratkan ciuman di bibir Kenan dan kali ini menyesapnya cukup lama meski pria itu tak membalas. “sekarang bagaimana? Apakah kamu sudah menyadari—“
“Cukup, Ganesha! Aku bilang cukup!”
Bentakan Kenan kali ini, tentu saja membuat air mata Ganesha berjatuhan. Terlebih saat pria itu meninggalkan pijakan tanpa mengucapkan sepatah kata. Menjauh bersama kepingan asa yang saat itu juga membuat tubuh Ganesha meluruh tak berdaya. Terisak kuat sembari menekan dadanya yang teramat sesak.
Hubungan ini, bukanlah hubungan sekejap yang berdasar saling menguntungkan. Bukan pula cinta satu malam, dijebak seseorang ataupun perjodohan. Dia sudah mengenal Kenan cukup lama dan banyak kenangan indah yang mereka lalui sebagai teman dekat. Status sebagai kekasih Kenan pun sudah dijalaninya selama 7 bulan, lantas bagian mana yang Kenan sebut tidak punya perasaan?
“Apa yang membuatmu berubah dalam sekejap, Kenan? Apa alasanmu meninggalkanku seperti ini hah?!” Ganesha sempat berteriak walau pria itu tidak akan kembali untuknya. Kata-kata Kenan tadi telah cukup menjelaskan bahwa dia adalah wanita paling bodoh di dunia. “apa Kenan hanya menjadikanku sebagai pelarian? Apa selama ini aku yang cinta sendirian?”
Ganesha tergelak.
Di kali pertama jatuh cinta, dia justru dicampakkan bahkan setelah mempercayakan semuanya kepada lelaki berengsek itu. Tidak lagi peduli benar dan salah, nista, dosa ataupun kotor seperti sampah.
“Jika suatu hari nanti takdir masih mempertemukan kita, semoga kau yang memohon di bawah kakiku, b******n!”