8.Menceburkan Diri

2138 Kata

“Minum!!” perintah om Drey setelah membiarkan aku menangis di pelukannya lalu mengajakku duduk di sofa ruang kantor kafe. Aku menurut minum karena sudah merasa sedikit lega setelah puas menangis. “Sekarang cerita sama aku, apa yang mendasari keputusanmu sampai bersedia menikah sama aku” pintanya setelah menaruh gelas di meja di depan sofa yang kami duduki bersama. “Memangnya mesti?. Bukannya yang penting untukmu jawabanku untuk kamu nikahi?” tanyaku. “Memang. Tapi kamu tentu tau resiko yang harus kamu ambil sebelum memutuskan bersedia aku nikahi. Kamu ingat syaratnya kan?” jawabnya. Aku langsung menghela nafas. “Sekalipun kamu bilang kamu masih perawan, tentu aku tetap butuh bukti” katanya lagi. Lagi lagi aku menghela nafas setelah bersandar di sofa yang kami duduki bersama. “Sudah

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN