MATTЕO muncul di depan kafe dengan langkah panjang, wajahnya gelap dan rahangnya mengeras. Dari balik kaca besar kafe itu, ia melihat Zenia duduk di pojok ruangan, tertawa kecil sambil memegang cangkir kopi. Di hadapannya duduk seorang pria muda—tampan, rapi, memakai kemeja biru muda—dan jelas sekali Zenia terlihat nyaman berbicara dengannya. Dan Matteo membencinya. Matteo berdiri beberapa detik, matanya menyipit, menahan amarah yang mendorong dadanya seperti gelombang besar. Zenia tidak pernah tertawa seperti itu padanya. Matteo mengepalkan tangannya, lalu memutar kepala sedikit ke sekeliling mencari ide. Hingga matanya tertuju pada seorang anak kecil berusia dua tahun yang sedang berlarian di dekat meja ibunya. Anak itu pipinya tembam, memakai kaus dinosaurus, dan sedang memegangi ba

