Zenia berdandan rapi dengan pakaian kasual, memilih blus krem yang sederhana namun manis dipadukan dengan celana panjang hitam. Rambutnya ia sisir rapi dan ia semprot sedikit parfum lembut. Hari ini ia ingin keluar, bertemu salah satu temannya untuk makan di sebuah kafe kecil yang baru buka. Ia ingin suasana berbeda, ingin berbicara dengan seseorang yang bukan Matteo, ingin menghirup udara segar tanpa harus khawatir lelaki itu mengikutinya. Ia mengambil tasnya, memastikan semuanya lengkap. Ponsel, dompet, lip balm, dan tisu kecil. Setelah semuanya beres, ia menuju pintu utama rumah dengan perasaan lega. Namun sebelum tangannya sempat memutar kenop pintu, tangan Matteo tiba-tiba menjulur dari samping dan menahan pergerakannya. “Aku ikut,” ucap Matteo dengan nada tegas namun misterius, seo

