Carla hadir dengan langkah anggun yang disengaja ketika pintu ruang rapat utama perusahaan Ancelotti terbuka. Sepatu hak tingginya berdetak pelan namun tegas di lantai marmer, seolah setiap langkahnya ingin menegaskan keberadaannya. Seluruh mata di ruangan itu langsung tertuju padanya. Para pemegang saham saling berpandangan. Beberapa berbisik pelan, sebagian lain hanya terdiam, menunggu apa yang akan terjadi. Matteo yang sejak tadi duduk di ujung meja rapat mengangkat wajahnya. Tatapan matanya langsung mengeras ketika melihat Carla. Tidak ada keterkejutan di sana, hanya kemarahan yang tertahan. Carla berhenti tepat di depan meja rapat. Senyum tipis terukir di bibirnya, senyum penuh kesombongan yang sama sekali tidak berusaha ia sembunyikan. “Maaf saya terlambat,” ucap Carla santai. “S

