Carla berdiri di tengah ruang tamu rumahnya yang berantakan. Vas pecah berserakan, lukisan mahal miring nyaris jatuh, dan sebuah kursi terguling akibat amukannya sendiri. Napasnya memburu, dadanya naik turun penuh amarah. Ponsel di tangannya bergetar—laporan terbaru dari orang-orang yang ia sewa. Gagal lagi. Untuk kesekian kalinya, rencana itu kandas bahkan sebelum benar-benar dimulai. Carla menekan layar dengan kasar, mendengarkan suara di seberang sana yang penuh alasan. Pengawalan terlalu ketat. Rute Zenia selalu berubah. Mobil pengawal selalu muncul lebih cepat dari perkiraan. Kamera keamanan ada di setiap sudut. Rumah itu sekarang seperti benteng. Carla memutus sambungan tanpa sepatah kata. Tangannya gemetar, bukan karena takut, melainkan karena murka yang menyesakkan. Ia menghemp

