Matteo mengajak Zenia turun dari mobilnya dan memasuki restoran bintang lima yang terkenal dengan interior elegan dan lampu gantung kristal besar di langit-langitnya. Zenia melangkah dengan ragu, sebab ia tidak mengerti kenapa harus makan di tempat semewah ini hanya untuk makan malam biasa. Matteo, tentu saja, berjalan santai dengan tangan di saku seolah membawa pasangan resmi. “Matteo… ini tempat mahal sekali. Aku bisa masak di rumah. Kenapa harus ke sini?” tanya Zenia pelan sambil menatap sekeliling. “Karena aku mau makan sama kamu di tempat bagus,” balas Matteo santai. “Dan kamu pantas berada di tempat seperti ini.” Zenia mendengkus. “Jangan manis-manis. Aku tidak suka.” “Kamu suka,” jawab Matteo cepat. Zenia memicingkan mata tajam. “Tidak.” Matteo tersenyum tipis. “Kita lihat nan

