Matteo duduk di tepi ranjang kamarnya, menatap ke arah dinding kosong, namun pikirannya penuh dengan bayangan Zenia. Setiap gerak, setiap tatapan, bahkan kemarahan Zenia yang meledak-leduk dihadapannya beberapa hari terakhir, terus menghantui pikirannya. Ia merasakan dorongan kuat dalam dirinya—dorongan yang ingin menundukkan, ingin memiliki, ingin menguasai Zenia. Namun, begitu matanya kembali menatap Zenia yang rapuh, yang lemah dan jelas tidak ingin tunduk pada kemauan siapapun, Matteo menahan dirinya. Ia sadar, kekerasan bukanlah jalan untuk mendapatkan Zenia, dan kesadaran itu membuat hatinya bergejolak, campur aduk antara keinginan, frustrasi, dan rasa bersalah. Sementara itu, Zenia duduk di ruang tamu, duduk di sofa dengan selimut tipis melingkari bahunya. Matanya menatap ke arah j

