Zenia menunduk, tangannya masih sibuk menyusun buku-buku yang berserakan di lantai perpustakaan. Suasana sunyi, hanya terdengar suara langkah Matteo yang perlahan mendekat di belakangnya. Zenia menahan napas ketika merasakan hangatnya tubuh Matteo dari belakang, seakan memeluknya tanpa benar-benar menyentuh. “Zenia… biarkan aku bantu sedikit,” suara Matteo terdengar lembut namun penuh kendali, napasnya mengenai leher Zenia sedikit membuatnya gemetar. Zenia menoleh sebentar, matanya menatap Matteo dengan ekspresi campur aduk—marah, terkejut, dan sedikit gelisah. “Matteo… jangan terlalu dekat. Aku bisa melakukannya sendiri,” ucapnya, suaranya tegas namun sedikit bergetar. Matteo tersenyum kecil, mencondongkan tubuhnya lebih dekat, tangannya dengan lembut menyingkirkan beberapa buku yang m

