Zenia masih tertawa kecil ketika anjing kecil berbulu putih hitam itu kembali memanjat pangkuannya. Anjing itu meringkuk manja, seolah merasa paling berhak atas perhatian Zenia. Matteo yang duduk di sebelah mereka menatap adegan itu dengan ekspresi datar, lalu mendesah pelan. “Sudah cukup,” gumam Matteo. Zenia menoleh. “Hah?” Belum sempat Zenia bereaksi, Matteo langsung mengangkat tubuh kecil itu dengan dua jarinya, menurunkannya dari pangkuan Zenia dan meletakkannya ke lantai dengan hati-hati, meski wajahnya jelas menunjukkan rasa tidak suka. “Hei,” protes Zenia sambil tertawa. “Kamu kok tega sekali sih?” Anjing kecil itu menggonggong pelan, lalu duduk sambil menatap Matteo seolah menantang. Matteo membalas tatapan itu tanpa berkedip. “Dia sudah merebut pangkuanmu seharian,” kata Ma

