Matteo terbangun perlahan ketika aroma masakan menggelitik indra penciumannya. Bau bawang putih yang ditumis bercampur dengan harum nasi hangat membuat perutnya langsung berkontraksi lapar. Ia mengusap wajahnya kasar, lalu bangkit dari sofa dengan langkah malas namun ringan. Rasa pegal di punggungnya semalam seolah terbayar lunas oleh aroma sarapan itu. Matteo berjalan menuju dapur dan berhenti di ambang pintu. Di sana, Zenia berdiri membelakanginya, mengenakan celemek sederhana, rambutnya diikat asal. Tangannya bergerak lincah mengaduk wajan. Pemandangan itu membuat Matteo tersenyum tanpa sadar. Ada perasaan hangat yang sulit dijelaskan melihat istrinya memasak khusus untuknya. Ia melangkah mendekat tanpa suara, lalu meraih Zenia dari belakang. Kedua lengannya melingkar di pinggang ramp

