Zenia terbangun perlahan ketika cahaya pagi menyelinap masuk melalui sela tirai kamar. Ia mengerjap beberapa kali, lalu refleks menggerakkan tangannya ke sisi ranjang. Kosong. Alisnya langsung berkerut. Biasanya Matteo selalu tidur di sampingnya, meski sering datang larut. Zenia mengangkat tubuhnya sedikit, menoleh ke sisi lain, tetap tidak menemukan sosok suaminya. “Ish! Matteo ada dimana sih?!” Pandangan Zenia kemudian jatuh ke sesuatu yang bergerak di atas selimut. Anjing kecil itu merenggangkan badannya dengan malas, kedua kaki depannya menjulur jauh, punggungnya melengkung sempurna seperti sedang pamer betapa nyamannya ia tidur semalaman. Zenia menatapnya beberapa detik, lalu senyumnya merekah tanpa sadar. Rasa gemas langsung memenuhi dadanya. Ia mendekatkan wajahnya dan mengusap b

