Sejak malam itu—malam ketika Matteo mengantarnya pulang setelah nonton bioskop dan bersikeras membelikan kalung—rumah besar itu kembali terasa sunyi seperti sebelum Matteo pulang dari luar negeri. Lima hari. Sudah lima hari Matteo tidak terlihat batang hidungnya. Zenia berjalan mondar-mandir di ruang tamu sambil melipat tangan di d**a. Matanya sesekali melirik ke arah pintu utama, seolah berharap pintu itu tiba-tiba terbuka. “Tidak… Aku tidak menunggu Matteo,” gumam Zenia sambil menggeleng cepat. “Kenapa aku harus menunggu? Dia pasti sibuk.” Namun dia berhenti di depan meja makan. Masih ada kotak perhiasan kosong yang sebelumnya berisi kalung yang kini melingkar di lehernya. Zenia memegang liontin kecil itu. “Hah… kenapa aku masih memakainya?” keluhnya. Zenia sudah beberapa kali men

