Setelah keluar dari bioskop, Zenia menarik napas lega. Udara malam terasa lebih sejuk dibandingkan suhu di dalam studio yang membuatnya gerah karena kedekatan Matteo. Zenia berjalan cepat, ingin segera pulang dan menjauh dari Matteo sebelum lelaki itu membuatnya makin kesal. Namun Matteo justru menggenggam tangan Zenia lagi. “Matteo, aku mau pulang,” keluh Zenia. “Kita mampir sebentar,” kata Matteo santai. “Tidak. Aku mau pulang. Sudah malam.” “Kita cuma sebentar, kok.” “Ke mana lagi? Jangan bilang—” Langkah Matteo berhenti di depan sebuah toko dengan pintu kaca besar, pencahayaan terang, dan etalase penuh perhiasan berkilau. Toko perhiasan. Zenia terpaku. “Matteo… kamu tidak akan—” “Ayo masuk,” katanya sambil sedikit mendorong Zenia pelan. “Matteo!” Zenia menahan lengan Matteo.

