Malam itu, rumah Ancelotti yang biasanya sunyi berubah menjadi hiruk pikuk. Musik berdentum keras, lampu-lampu berwarna menari di langit-langit tinggi, dan orang-orang berdatangan mengenakan pakaian mewah, membawa aroma parfum mahal yang menusuk hidung. Rumah yang dulu dijaga penuh kehormatan oleh Carlo kini seolah kehilangan rohnya, berganti menjadi arena pesta tak beraturan yang membuat Zenia hampir muak melihatnya. Zenia berdiri di depan cermin kamarnya, mengenakan pakaian yang membuatnya merasa terhina. Gaun pelayan berwarna hitam dengan celemek putih kecil di bagian depan, rok yang terlalu pendek hingga membuatnya ingin menutupinya dengan tangan. Matteo memaksanya mengenakan itu — katanya, hanya untuk malam ini, agar “terlihat lucu” di antara tamu-tamunya. Tapi Zenia tahu, itu bukan

