Zenia mulai kehilangan keseimbangan ketika treadmill melaju sedikit lebih cepat dari perkiraannya. Tubuhnya goyah, kakinya hampir terpeleset, dan ia merasakan detik-detik jatuh yang menakutkan itu datang begitu cepat. Namun sebelum tubuhnya sempat menghantam lantai, sebuah tangan kuat menarik pinggangnya dan menahan seluruh bobot tubuhnya dalam satu gerakan tegas. Matteo langsung merangkulnya dari belakang, menopang punggung dan lengannya, memastikan Zenia tidak terluka sedikit pun. Nafas Zenia tercekat, tubuhnya membeku, sementara Matteo menahan napas berat akibat refleks menyelamatkannya. “Zenia, hati-hati,” suara Matteo terdengar rendah dan dalam, begitu dekat hingga membuat tengkuk Zenia meremang. Kepala Zenia terangkat sedikit karena shock, dan ketika ia menoleh, mata mereka bertem

