Matteo menutup berkas terakhir di tablet miliknya dengan gerakan pelan. Ia tidak langsung berdiri, justru bersandar di sandaran sofa, menatap langit-langit apartemen Zenia yang diterangi cahaya temaram. Dari arah kamar terdengar suara lemari dibuka dan ditutup pelan, tanda Zenia masih merapikan sesuatu. Ia menarik napas dalam-dalam, seperti sedang menimbang kata. Zenia keluar dari kamar sambil mengikat rambutnya seadanya. “Kamu kelihatan mikir berat,” ucapnya sambil duduk di ujung sofa, menatap Matteo. Matteo tersenyum tipis. “Aku memang lagi mikir.” “Mikir apa?” Zenia memiringkan kepala. Matteo menggeser duduknya agar lebih menghadap Zenia. Nada suaranya berubah lebih hati-hati. “Aku dapat undangan malam ini.” Zenia mengangkat alis. “Undangan?” “Iya. Dari rekan bisnis. Mereka m

