Pagi itu seharusnya berjalan seperti biasa. Zenia sudah berdiri di depan lemari pakaiannya sejak subuh, memilih setelan kerja berwarna krem yang selalu memberinya rasa percaya diri. Rambutnya diikat rapi, wajahnya bersih tanpa riasan berlebihan. Ia menatap pantulan dirinya di cermin, menghela napas panjang. “Hari ini bakal panjang,” gumamnya pelan. Dari dapur, Matteo menyahut, “Aku bisa antar kamu.” Zenia tersenyum kecil. “Tidak perlu. Kamu masih jet lag.” “Aku tidak keberatan,” balas Matteo sambil muncul di ambang pintu kamar. Zenia menoleh. “Kamu sudah tiga hari menemaniku terus.” “Dan aku ingin terus begitu.” Zenia berjalan mendekat, merapikan kerah kemeja Matteo. “Aku cuma ke butik. Tidak akan lama.” Matteo mencium kening Zenia. “Hati-hati.” “Aku selalu hati-hati,” jawab

