Carla berdiri di depan gedung kepolisian dengan kacamata hitam besar menutupi wajahnya. Tangannya mencengkeram tas mahal yang kini terasa berat seperti beban hidupnya sendiri. Langkahnya cepat, penuh amarah, seolah yakin bahwa hari ini ia akan membalikkan keadaan. “Tenang, Carla. Kau korban,” gumamnya pada diri sendiri. Begitu memasuki ruang penerimaan laporan, seorang petugas wanita menatapnya dengan ekspresi netral. “Selamat siang. Ada yang bisa kami bantu?” Carla melepaskan kacamata hitamnya dengan gerakan tajam. “Saya ingin melaporkan seseorang.” Petugas itu mengangguk. “Silakan duduk. Siapa nama pelapornya?” “Carla Ancelotti.” Nama itu membuat petugas tersebut berhenti menulis sesaat, lalu melanjutkan kembali seolah tidak terjadi apa-apa. “Dan siapa yang ingin Anda laporkan,

