Bab 56

933 Kata

Angin malam berembus pelan di balkon lantai dua rumah itu. Lampu-lampu kota berkelip di kejauhan, terlihat seperti bintang yang jatuh ke bumi. Zenia duduk di kursi rotan dengan selimut tipis melingkari bahunya. Pandangannya kosong, tertuju pada gelapnya langit, seolah di sana tersimpan semua pertanyaan yang berputar di kepalanya. Matteo berdiri di belakangnya, lalu duduk dan memeluk Zenia dari belakang. Lengannya melingkar erat, dagunya bertumpu di bahu Zenia. Pelukan itu hangat, protektif, namun bagi Zenia justru membuat dadanya semakin sesak. “Komentar-komentar itu sudah mereda,” ucap Matteo pelan. “Media mulai bosan. Mereka akan mencari skandal lain.” Zenia mengangguk kecil. “Aku tahu. Tapi bukan itu yang menggangguku.” Matteo terdiam. Ia bisa merasakan tubuh Zenia menegang. “Aku c

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN