Kafe itu awalnya tenang. Alunan musik jazz lembut mengalun dari pengeras suara tersembunyi. Aroma kopi dan pastry hangat bercampur di udara. Zenia duduk di sudut dekat jendela, secangkir latte di depannya yang belum disentuh. Ia datang sendiri. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa cukup berani untuk keluar tanpa pengawalan Matteo yang berlebihan. Ia ingin bernapas sebagai dirinya sendiri. Namun ketenangan itu pecah dalam satu detik. Langkah sepatu hak tinggi terdengar cepat dan keras mendekat. Sebelum Zenia sempat menoleh, cairan dingin menyiram wajah dan bajunya. Es batu berjatuhan ke lantai, minuman berwarna cokelat muda membasahi rambut, leher, dan d**a Zenia. Suara teriakan kecil terdengar dari beberapa pengunjung. Zenia terdiam. Tangannya mengepal. Napasnya terta

