Malam itu rumah terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Zenia duduk di tepi ranjang, rambutnya masih sedikit lembap karena baru mandi. Bekas dingin minuman yang disiramkan Carla siang tadi seolah masih menempel di kulitnya, bukan secara fisik, tapi di pikirannya. Tangannya menggenggam ponsel tanpa benar-benar melihat layar. Pintu kamar terbuka pelan. Matteo masuk dengan langkah berat. Jasnya sudah dilepas, dasinya entah diletakkan di mana. Ia menatap Zenia cukup lama sebelum akhirnya duduk di samping wanita itu. “Kamu nggak bilang apa-apa sejak pulang,” ucap Matteo pelan. Zenia tersenyum kecil, tapi senyum itu rapuh. “Aku lagi mikir.” “Mikir apa?” Zenia menarik napas panjang. “Mikir… sampai kapan kita bisa hidup seperti ini.” Matteo langsung menoleh. “Maksudmu?” Zenia memalingkan

