Zenia berdiri di depan jendela apartemen kecilnya di kawasan River Valley, Singapura. Dari lantai belasan itu, kota tampak hidup dengan caranya sendiri. Lampu-lampu gedung menyala rapi, lalu lintas tertib, dan udara malam terasa lebih dingin dibandingkan Jakarta. Tidak ada suara Matteo di belakangnya. Tidak ada langkah kaki yang biasanya mendekat lalu memeluknya dari belakang. Hanya keheningan. “Aku benar-benar sendirian sekarang,” gumamnya pelan. Hari-hari pertama terasa seperti berjalan tanpa arah. Zenia bangun pagi tanpa tujuan pasti, hanya menyeduh kopi instan dan duduk menatap meja kecil di sudut dapur. Namun di hari ketujuh, ia membuka sebuah koper lama yang dibawanya dari rumah Matteo. Di dalamnya ada beberapa buku catatan milik Carlo Ancelotti. Tangannya bergetar saat menyentuh

