Bab 35

859 Kata

Zenia mengikuti langkah Matteo memasuki kafe itu dengan perasaan bercampur aduk. Aroma kopi premium dan wangi pastry yang baru keluar dari oven langsung menyambut mereka, membuat suasana kafe terasa hangat dan elegan. Lampu gantung berwarna keemasan memantulkan cahaya lembut pada meja-meja kayu gelap, sementara alunan musik jazz pelan mengisi ruangan. Namun suasana indah itu sama sekali tidak membuat Zenia tenang. Karena Matteo, tanpa rasa ragu, langsung menggenggam tangan Zenia begitu mereka masuk. Genggaman yang erat. Genggaman yang seolah mengatakan bahwa Zenia tidak boleh menjauh satu langkah pun darinya. “Hei,” bisik Zenia, mencoba menarik tangannya. “Lepaskan. Orang-orang melihat.” “Biarkan,” jawab Matteo singkat tanpa menoleh. “Aku tidak peduli.” “Aku peduli!” Zenia memelotot

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN