Aku tidak merencanakan pengakuan ini. Tidak ada naskah. Tidak ada timing dramatis. Tidak ada hujan di luar jendela. Yang ada hanya dapur, kompor menyala kecil, dan Lova yang sedang memotong bawang dengan ekspresi fokus. Aku berdiri di dekat wastafel. Berpura -pura sibuk mencuci gelas yang sebenarnya sudah bersih. “Va,” panggilku. “Hm?” Ia tidak menoleh. “Kamu hari ini… capek?” “Iya,” jawabnya jujur. “Kampus ribut.” Aku mengangguk. “Iya.” Hening sebentar. Kalau tidak sekarang, aku tidak tahu kapan. “Aku mau bilang sesuatu,” kataku akhirnya. Lova berhenti memotong bawang. Menoleh. “Apa?” Aku menarik napas. Bukan napas besar. Napas kecil. Versi orang dewasa yang tidak biasa mengakui hal receh. “Aku… mungkin agak berlebihan hari ini.” Lova mengangkat alis. “Agak?” “Iya. Agak

