Aku tidak cemburu. Aku hanya… memperhatikan situasi akademik. Itu yang kukatakan pada diriku sendiri saat melihat Lova duduk di taman fakultas, dikelilingi tiga mahasiswa laki-laki dari jurusan sebelah. Mereka tertawa. Salah satunya terlalu condong ke depan. Yang satu lagi duduk terlalu dekat. Catat, terlalu dekat. Aku berhenti melangkah. Tidak. Aku tidak berhenti. Aku hanya… melambat. “Kamu kenapa berdiri di situ?” tanya Pak Arif yang tiba -tiba muncul di sampingku. Aku tersentak. “Ah ...nggak apa -apa.” Pak Arif mengikuti arah pandangku. “Oh.” Nada “oh” -nya panjang dan penuh makna. “Itu istri kamu, ya?” tanyanya santai. Aku membenarkan kacamata. “Iya. Tapi itu urusan pribadi.” “Kelihatannya lagi diskusi,” katanya. “Iya. Diskusi.” Diskusi sambil ketawa? Baiklah. Aku me

