Lova diam menatap Rey yang masih terlelap di kursi. Melihat wajah tampan yang trelihat lelah itu ternyata sangat kasihan sekali. Tiba -tiba saja, Lova memiliki rasa kasihan kepada Rey. Setelah sebelumnya ia menolak tegas keberadaan Rey yang hadir untuk sebuah drama pura -pura. "Ishhh ... Ngapain pakai kasihan segala," ucap Lova memutar kedua bola matanya malas. Ia harus buang rasa kasihan kepada Rey. Biarkan saja. Itu sudah menjadi tanggung jawabnya. Lova memilih diam. Tapi ruangan itu terasa hening, sunyi dan malah terasa horor. Hanya bunyi detak jarum saja. Kemana perginya para suster. Kenapa sesepi ini. Tubuhnya mulai merasa merinding dan mulai merasakan takut luar biasa. Pikiran horor di kepala Lova pun mulai bermunculan satu per satu. Mulai dari kunti rambut panjang dnegan wajah j

