Di dalam rumah Utama hari ini terasa mencekam. Nayara tidak jadi berangkat ke kantor. Ia kembali ke kamar di antar oleh Nayla. Seorang ibu yang sabar dan menerima putrinya dalam keadaan apapun. Nayla membawa Nayara ke kasur dan membantu Nayara merebahkan tubuhnya di kasur. Nayla duduk di tepi ranjang dan mengusap kepala Nayara dengan lembut. "Ma ..." ucap Naya terbata. "Iya sayang ..." jawan Nayla lembut. Nayla tetap tersenyum walaupun hatinya perih dan pedih. Sama sekali tidak bisa digambarkan dengan kata -kata. "Mama kecewa sama Naya?" tanya Naya lirih. Suara Nayara itu seperti sebuah pertanyaan atau hanya pemberitahuan saja. Tidak jelas. "Kamu bertanya? Atau sedang melihat keadaan mama saat ini?" tanya Nayla semakin lembut. "Mama pasti kecewa dengan Naya ..." ucap Naya lagi. Nay

