Nayara meoleh ke arah Mahesa dan menunduk sambil menggelengkan kepalanya pelan. Ia tak sanggup untuk jujur. Rasany belum bisa. Semua masih terasa berat. Utama masih terdiam di depan dinding putih. Tanagnnay sudah tidak lagi memukul -mukul dinding. Tangannya sudah terluka tapi rasanya sama sekali tidak sakit. Lebih sakit dibohongi oleh putrinya sendiri. Utama mencoba tenang seperti apa yang Nayla bilang. Ia menunggu Nayara bicara dengan sejujur -jujurnya. "Naya ... Coba kamu bicara. APa yang terjadi?" tanya Mahesa dengan suara lembut dan menenangkan. Suara Kakek Mahesa begitu bijak. Apa karena beliau belum tahu duduk permasalahannya. Naya diam seribu bahasa. Ia harus mengakui mulai dari mana? Terlalu banyak hal yang terjadi pada dirinya selama hampir setahun ini. Perlahan pelukan di

