5

781 Kata
Pagi ini, Denis sudah menjemput Nayara di kos. Denis sudah mendaftarkan pernikahannya pada seorang kyai ternama. Walaupun hanya pernikahan siri saja karena belum ada pembicaraan antara Denis dengan orang tua Nayara. Setidaknya Denis telah bertanggung jawab atas kehamilan Nayara akibat kesalahan satu malam itu. Nayara sudah keluar dari gerbang kos dan masuk ke dalam mobil Denis. Jujur, ada ketakutan tersendiri yang dirasakan Nayara saat ini. Ini negara enagn adat timur. Pernikahan itu adalah acara yang sakral dan seharusnya dilakukan oleh dua orang insan yang saling mencintai. Selain itu harus ada saksi dak keluarga kedua belah pihak sebagai pemberi restu. Ternyata apa? Impian Nayara tidak seindah kenyataannya. Pernikahan yang semestinya menjadi puncak klimaks pelepasan masa lajangnya, kini malah menjadi sebuah rentetan kejadian yang akibatnay harus ditanggung dengan beban mental. Apa ada sanksi sosialnya? Tentu saja ada. Setelah ini, perutnya membuncit. Belum lagi desas desus di Kampus yang bakal cepat menyerbak jika ada gosip murahan yang menjatuhkan. Ini benar -benar membuat Nayara sangat tidak nyaman sekali. Nayara sudah duduk di jok mobil Denis. Ia langsung duduk tanpa menyapa Denis yang sejak tadi menatap gerak -gerik panik Nayara. "Sudah sarapan?" tanya Denis lembut. "Eum ... Belum," jawab Nayara singkat. Ia sedang menarik sabuk pengaman dan melingkarkan ditubuhnya yang mungil. Denis menoleh ke belakang dan mengambil sesuatu dari jok belakang lalu memberikannnya pada Nayara. Sebuah kotak makan lengkap dengan tumbler berwarna biru muda yang entah apa isinya. "Ini buat kamu, makanlah dulu. Perjalanan kita agak lumayan jauh," jelas Denis lagi. "Hu um ..." jawab Nayara singkat. Mobil Denis sudah melaju ke tempat tujuan. Denis memiliki kenalan seorang kyai di kota lain. Dan ia akan menikahi Nayara disana. Denis sudah bicara dengan kyai tersebut semalam. Apa yang sedang ia hadapi dan mencari solusi tanpa ada yang dirugikan. Sebuah solusi sudah ia genggam. Dalam hati Denis tulus menikahi Nayara bukan sekedar tanggung jawab saja. Mungkin saat ini, Nayara hanya berpikir pendek saja. Tapi, setelah anak itu lahir, tentu akan menjadi maslaah baru lagi. "Pak ... Aku makan ya?" ucap Nayara pada Denis. "Iya. Tolong jangan panggil saya, Pak," jelas Denis kurang bsia menerima. "Lalu?" tanya Nayara bingung. "Terserah kamu. Nyamannya gimana? Asal janagn panggil saya dengan sebutan yang formal," jelas Denis lagi. Nayara hanaya menganguk. Ia tidak tahu harus memanggil apa. Panggilan Pak itu rasanya sudah sangat cocok sekali untuk Denis. Lelaki yang usianya diatas Nayara agak jauh. Gayanya selalu formal dan cukup serius dengan kaca mata minus yang menghiasi wajah Denis. Entahlah, pikirkan saja nanti. Nayara membuka kotak amkan itu dan menatap dua tangkup roti. Paling atas roti tawar dengan mentega dan meses. Ini adalah toping yang paling disukai sejuta umat termasuk Nayara. Dan tangkupan terakhir seperti sandwich, ada sayuran dan daging ham di dalamnya. Nayara mulai menikmati roti tawar itu dan menatap ke depan untuk melihat pemandangan indah di sepanjang jalan. Jujur, Nayar itu jarang bepergian jauh. Kedua orang tuanya sibuk bekerja mengelola bisnis. Papa Utama yang sibuk mengelola dua perusahaan sekaligus membuatnya tak memiliki waktu banyak dirumah. Pergi pagi, dan pulang sudah larut malam. Sedangkan Mama Nayla juga sibuk di toko rotinya. Walaupun masih sempat memasak untuk keluarga kecilnya dan membawakan bekal khusus untuk Nayar dan suaminya. Tetap saja, sepanjang hari, mama Nayla jarang berada di rumah. "Setelah menikah, kamu harus tinggal di apartemenku," titah Denis denagn suara tegas. Kalimat itu jelas dan tidak terbantahkan. Nayara yang sedang mengunyah pun langsung menoleh ke arah Denis dengan bingung. "Ti -tingal satu atap?" tanya Nayara gugup. Denis melirik sekilas ke arah Nayara yang terlihat polos dan bingung, "Iya. Kamu kan sebentar lagi jadi istriku." "Eum ... Kalau saya menolak?" ucap Nayara lantang dan begitu yakin. Denis kembali melirik ke arah Nayara lagi dan terkekeh pelan, "Boleh. Tapi kalau ada yang tanya tentang perut kamu, gimana?" Deg ... Deg ... Deg ... "Jawaban Denis cukup membuat Nayara kembali tegang. Betul sekali ucapannya. Ia ini sdeang hamil, makanay mau dinikahi siri. Tapi? Ini kan sebatas pernikahan kontrak saja, pernikahan karena sebuah tanggung jawab dan statusnya hanya sampai anak ini lahir." Nayara membatin di dalam hatinya. "Kok diem? Kamu gak usah takut dan berpikiran yang aneh- aneh. Saya ajak kamu tinggal di apartemen itu agar saya bisa pantau kesehatan kamu dan bayi kita. Lagi pula, di apartemen ada dua kamar, kita bakal tidur terpisah kok," jelas Denis lagi panjang lebar. Ia tahu ketakutan Nayara itu seperti apa. "Iya," jawba Nayara mengangguk setuju. Dalam hatinay bisa bernapas lega. Jadi, Pak Denis hanya khawatir dengan bayinya. "Satu lagi yang kamu perlu ingat. Jangan pernah melukai bayi kita. Kalau kamu kesal dengan saya atau kamu merasa ellah. Jangan pernah kamu apa -apakan bayi kita," jelas Denis menasehati. Nayara mengangguk paham. Sepertinya kelebihan Denis ini ada satu lagi. Denis bisa membaca pikiran orang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN