6

785 Kata
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya sampai juga di sebuah rumah yang kokoh tetapi bergaya klasik. Sem ua bangunannya terbuat dari kayu jati. Halamannya begitu luas dan ukiran pagar serta pintunya terlihat sangat cantik sekali. Rumah itu seperti joglo yang sepertinya nyaman untuk ditinggali. Nayara masih terpukau melihat bangunan klasik nan elegan di depannya. Ia melepas sabuk pengaman dan membuka pintu mobil. Denis sudah turun lebih dulu dan membantu Nayara untuk turun. Makum, Nayara sedang hamil dan mobil Denis cukup sedikit tinggi. Takutnya Nayara agak kesulitan naik dan turun jika tidak dibantu.p Setelah membantu Nayara, Denis ke arah belakang dan membuka bagasi mobil. Ia mengeluarkan beberapa plastik besar yang berisi aneka bahan pokok dan makanan ringan. Nayara mendekati Denis dan menatapa beberapa plastik yang sudah diturunkan ke bawah. "Ini apa?" tanya Nayara polos. "Oh ... Ini untuk Pak Kyai," jawabnya singkat. Nayara menunduk dan ingin membantu membawakan beberapa kantong plastik itu. "Jangan Naya. Biar aku saja. Kamu sedang hamil, tidak boleh angkat berat," titah Denis segera menutup bagasi mobilnya dan mengambil alih smeua plastik -plastik yang sempat akan dibawa oleh Naya. Naya langsung mundur dan membiarkan Denis membawa semua plastik itu. Denis berjalan lebih dulu masuk ke teras rumah joglo klasik itu. Naya mengikuti dari belakang. Ia memakai pakaian gamis putih pemberian Denis lengkap dengan kerudung senada dengan bordir bunga warna emas . Cukup beberapa ketukan di pintu ukiran jepara kayu jati. Pintu itu sudah terbuka dan menampilkan sosok lelaki tua seperti kakek -kakek dengan peci putih di kepalanya. Lelaki itu memakai jubah putih dan sorban yang menutup punggungnya. "Assalamualaikum ... Pak Kyai ..." ucap Denis dengan sopan dengan anggukan kecil sebagai tanda hormat. "Waalaikumsalam ... masuk," ucapnya tegas sambil menatap ke arah Nayara begitu lekat. Merasa ditatap dnegan aneh, Nayara pun menunduk. Ia tak berani menatap lelaki tua yang dipanggil Pak Kyai oleh Denis itu. Denis masuk ke dalam dan meletakkan beberapa plastik di lantai dekat tempat duduk Pak Kyai. Lalu ia duduk dan mengajak Nayara duduk di dekatnya. Nayara duduk tepat disamping Denis. Tak lama seorang perempuan muda yang usianya tak jauh dengan Nayara keluar dari dalam dan menatap Denis denagn senyum yang tertahan. Perempuan itu mengambil beberapa kantong plastik dan membawanya ke dalam. Nayara cukup jeli. Ekor matanya masih memandang perempuan yang mencuri pandang ke arah Denis. Namun, Denis seolah tak peduli. "Kamu yakin akan menikah hari ini?" tanya Kyai itu dengan suara tenang. "Iya Pak Kyai ..." jawab Denis tenang. "Lalu ... Siapa yang akan menjadi saksi gadis ini? Kamu tahu kan aturan di agama kita," jelas Kyai itu denagn suara tajam. Denis terdiam dan terlihat tidak mau berdebat dengan Kyai sepuh itu. Nayara tetap menunduk dan Kyai itu menatap tajam ke arah Denis. Tak lama ada sekitar tiga orang datang. Lalu duduk di kursi yang berseberangan dengan Denis. "Kami sudah siap, Pak Yai ..." Begitu kalimata yang terlontar dari bibir salah satu pria setenagh baya itu. Pak Kyai berdiri dan mengambil sesuatu dari lemari kaca dan memberikan kepada salah satu lelaki yang bicara tadi. "Pakai ini," titah Kyai itu memberikan sorban kepada Denis untuk menutup kepala Denis dan Nayara saat akan mengucap ijab kabul. Salah satu lelkai tadi berdiri dan membantu memasangkan di atas kedua kepala yang akan menikah. Nayara agak menggeser sedikit duduknya agar bersebelahan dengan Denis. Pernikahan siri itu akan segera dimulai. Nayara diminta untuk menuliskan nama dan nama kedua orang tuanya. Begitu juga dengan Denis yang menuliskan nama serta nama kedua orang tuanya. Dari arah belakang, seorang gadis yang mengambil beberapa kantong plastik itu menatap sayu ke arah depan. Suara lantang Denis yang mengucap janji ijab kabul atas nama Nayara pun membuat hatinya mencelos. Sudah lama, ia menyukai Denis dalam diam. Ia sudah meminta Ayahnya untuk menjodohkannya dengan Denis. Namun sayang, Pak Kyai tidak pernah mau menjodohkan mereka dengan alasan tertentu. "Saya terima nikah dan kawinnya Nayara Prameswari bin Utama Mahesa dengan mas kawin tersebut diatas." Suara Denis begitu lantang dan wajahnya nampak sekali serius. Nayara sendiri tak pernah menyangka kalau dirinya bakal nikah semuda ini. Impiannya masih banyak yang belum tercapai. Kenapa nasib buruk menyertainya. Sungguh menyebalkan sekali, umpat Nayara di dalam hati. "SAH!" ucap ketiga laki -laki itu secara serempak. Kyai sepuh menyodorkan surat keterangan nikah yang sudah di tulis tangan. Ada nama Denis dan Nayara disana. Mereka harus menandatangani sesuai dengan prosedur. Tidak lupa, ada beberapa video dan foto sebagai bukti pernikahan siri mereka. Dan juga fotokopi identitas keduanya. Pernikahan siri sudah selesai dilangsungkan. Sekarang Denis dan Nayar sudah SAH secara agama menjadi suami istri. Denis memasangkan cincin pernikahan di jari manis Nayara dan mengecup kening Nayara dengan hati -hati. Lalu Nayara juga melakukan hal yang sama kepada Denis. Mengikuti ucapan Kyai untuk mencium punggung tangan Denis sebagai tanda hormat istri kepada suami.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN