“Gimana tadi ngobrol sama Papa dan Mama, Mil?” tanya Mas Rivan saat dia mengantarku pulang. Aku pulang agak telat karena Bu Rara memintaku untuk makan bersama lebih dulu. Aku patuh saja, daripada mengecewakan beliau. “Sejujurnya, baik Papa atau Mamanya Mas Rivan kasih sinyal yang bagus. Tapi aku mau nunggu konfirmasi mereka kalau nanti Mas udah pulang dan ngobrol lagi. Soalnya tadi itu ucapan mereka menggantung semua. Waktu Pak Danu, tiba-tiba Mas sama Bu Rara pulang. Waktu Bu Rara, Mas tiba-tiba datang ngeluh lapar. Ini Mas sendiri, lho, yang bikin aku gamang dan bingung.” Mas Rivan malah tertawa. “Gimana, emang?” “Pak Danu bilang, intinya beliau berharap lain kali pengen main catur lebih sering sama aku. Sambil nyore nunggu matahari terbenam—” “Papa bilang gitu?” Mas Rivan menoleh.