i
Lapangan basket SMAN 1 bergemuruh. Teriakan, tepuk tangan, dan sorak-sorai bergantian pecah setiap kali bola masuk ke ring. Matahari sore menyorot dari balik awan, menciptakan bayangan panjang para pemain yang berlari bolak-balik di atas lapangan aspal.
Agisa Rasanjani duduk di tribun paling depan, jari-jarinya menggenggam erat kipas lipat warna biru yang sudah mulai pudar. Ia tersenyum sendiri saat melihat Rayn Wijaya berlari membawa bola, keringat membasahi keningnya, rambutnya yang sebentar lagi dicukur pendek itu menempel basah di pelipis.
"Semangat, Rayn!" seru Agisa, mengangkat kipasnya tinggi-tinggi.
Di sebelahnya, Hany, teman sebangkunya dengan kacamata bundar yang selalu turun ke ujung hidung, menyenggol lengan Agisa pelan.
"Gis," bisik Hany, matanya bergerak waspada ke sekeliling. "Dia udah punya pacar, lho."
Agisa menurunkan kipasnya. "Terus?"
"Ya jangan dikasih semangat gitu, nanti pacarnya marah."
"Setau aku, Rayn belum punya pacar." Agisa mengerutkan kening, mencoba mengingat obrolan singkatnya dengan kapten basket itu minggu lalu di ruang Pramuka. Rayn bahkan bilang ia tidak suka diganggu, lebih suka fokus latihan.
"Tapi gosipnya, Violet udah ngincer Rayn lama. Dan mereka sama-sama populer."
"Baru ngincer aja, kan? Belum jadian." Agisa mengangkat bahu. Ia tidak peduli dengan gosip-gosip sekolah yang selalu berubah setiap minggu. Yang ia tahu, Rayn selalu tersenyum padanya saat latihan Pramuka, selalu menyapa duluan, dan minggu lalu bahkan meminjamkan jaketnya saat Agisa kedinginan di ruang kelas. Itu cukup. Itu lebih dari cukup untuk seorang gadis seperti dirinya.
Hany mendesah. "Aku cuma ngingetin aja, Gis. Biar lo siap."
"Iya, makasih. Aku hargai kok." Agisa tersenyum pada sahabatnya, lalu kembali memusatkan perhatian pada lapangan.
Tepat saat itu Rayn berhasil mencetak angka. Pemuda itu berbalik, menoleh ke tribun dan matanya bertemu dengan Agisa. Sekejap, ia mengangkat satu tangan, memberi kode khas yang selalu mereka lakukan di Pramuka, tiga jari di d**a, ibu jari ke atas. Kode untuk "kita kuat."
Wajah Agisa memerah. Ia membalas kode yang sama, dan Rayn tersenyum lebar sebelum kembali berlari mengejar bola.
Di tribun sebelah kiri, tempat para siswi dengan seragam yang lebih rapi, sepatu lebih mahal, dan tas bermerek, Violet Sabrina duduk di tengah gengnya. Tangannya memegang botol minum berwarna merah muda dengan sticker nama inisialnya di permukaan.
Seorang gadis di sebelahnya menyenggol lengan Violet. "Vi, tuh. Ada yang caper sama pacar lo."
Ekspresi Violet yang semula santai langsung berubah. Alisnya turun, bibirnya mengerucut. "Siapa?"
"Tuh, siswi miskin. Yang pake kipas biru."
Violet menoleh. Matanya menyipit, mencari ke arah tribun depan. Lalu ia menemukannya, seorang gadis dengan rambut diikat kuda, seragam yang sedikit kusut di bagian kerah, dan kipas lipat murahan yang jelas-jelas bukan barang branded. Gadis itu tertawa, melambai, memberi isyarat pada Rayn.
Darah Violet mendidih.
"Dasar miskin, sok mau caper sama pacar orang," gumamnya, jari-jarinya mencengkeram botol minum hingga kukunya memutih.
"Kasih pelajaran, Vi," bisik temannya, menyunggingkan senyum sinis. "Biar tau diri."
Violet tersenyum. Bukan senyum manis yang biasa ia tunjukkan di depan guru. Ini senyum lain. Senyum yang hanya keluar saat ia tahu ia memiliki kekuasaan penuh atas seseorang.
Jam pulang sekolah berbunyi. Agisa menggendong tasnya yang agak berat karena berisi buku-buku perpustakaan yang belum sempat ia baca, dan berjalan menuju gerbang. Langkahnya ringan. Hari ini menyenangkan. Rayn tersenyum padanya, Hany menemani makan siang, dan nilai ulangan matematikanya lumayan.
Tapi langkahnya terhenti saat ia melihat beberapa bayangan di belakang toilet samping gedung olahraga.
"Agisa!"
Ia menoleh. Di ujung lorong, Violet dan tiga temannya berdiri dengan tangan bersilang. Ekspresi mereka tidak ramah.
"Ada apa?" Agisa mencoba tersenyum, meski dadanya mulai berdebar tak nyaman.
Violet melangkah maju. Kakinya yang memakai sepatu kets mahal berdecit di lantai keramik. "Jangan pura-pura polos, deh. Lo tadi caper sama pacar gue, iya kan?"
"Pacar kamu siapa?"
Violet mendengus. "Pake tanya." Ia menoleh ke arah teman-temannya. "Lo tadi di tribun depan, semangatin Rayn. Dengan kipas biru lo yang murahan itu."
"Aku cuma semangatin teman." Agisa menggigit bibir bawahnya. "Apa salahnya?"
"Banyak bacot!" Violet mengangkat tangannya dan telapak tangannya mendarat di kepala Agisa. Keras. Cukup keras untuk membuat Agisa terhuyung dan memegangi kepalanya.
"Kenapa lo mukul gue?" Suara Agisa bergetar, bukan karena takut, tapi karena marah.
"Karena lo murahan!"
Salah satu teman Violet muncul dari balik tembok. Tangannya membawa ember plastik biru, ember yang biasanya dipakai petugas kebersihan untuk mengepel lantai. Di dalamnya, air berlumpur, sedikit keruh dan bau sabun lantai.
Secepat kilat, teman Violet itu mengangkat ember dan menyiramkannya tepat ke tubuh Agisa.
Air dingin menyambar. Agisa menjerit, refleks menutup kepalanya dengan kedua tangan, tapi sudah terlambat. Seragam putih abu-abunya basah kuyup. Air menetes dari ujung rambutnya, membasahi kertas-kertas di tasnya, merembes ke sepatu. Bau sabun lantai menusuk hidung.
Tawa pecah. Teriakan-teriakan kecil dari geng Violet. Mereka saling bersenggolan, menunjuk ke arah Agisa seolah sedang menonton pertunjukan sirkus paling lucu.
"Mampus! Makanya jangan caper!" Violet melemparkan satu kata terakhir sebelum berbalik, bersama ketiga temannya, meninggalkan Agisa yang gemetar di lorong belakang toilet.
Agisa berdiri diam beberapa detik, menatap punggung mereka yang menjauh. Giginya menggigit bibir bawah hingga hampir berdarah. Ia menunduk, melihat bayangan dirinya yang basah dan kotor di genangan air berlumpur di lantai.
Ia tidak menangis. Di tempat ini, di hadapan mereka, ia tidak akan memberi kepuasan itu.
Dengan langkah cepat, ia berjalan ke ruang guru. Seorang guru piket, Pak Haryanto, sedang duduk di balik meja, membuka-buka lembar absen.
"Pak," suara Agisa serak. Ia berdiri di depan meja dengan seragam yang masih menetes. "Saya dikerjai oleh Violet dan teman-temannya. Mereka menyiram saya di belakang toilet."
Pak Haryanto mengangkat kepalanya. Matanya menatap Agisa dari ujung kaki hingga kepala, lalu ia menghela napas panjang. Tangannya menutup lembar absen pelan-pelan.
"Agisa," katanya pelan, "kamu tahu kan, Violet itu cucu dari Bapak Prasodjo? Donatur utama sekolah ini?"
Agisa menatap gurunya. "Saya tahu, Pak. Tapi—"
"Ya sudah," potong Pak Haryanto, mengibaskan tangan seolah mengusir lalat. "Lebih baik kamu diam saja. Nanti kalau ribut, malah kamu yang kena. Kamu anak beasiswa, kan? Jangan bikin masalah."
Jantung Agisa terasa berhenti sejenak. Lalu berdetak kembali, lebih keras. Sepotong kata-kata gurunya terasa seperti tamparan lain, tapi kali ini tidak ada air. Hanya perih yang menyebar dari dadanya ke sekujur tubuh.
"Iya, Pak. Saya mengerti."
Ia keluar dari ruang guru dengan langkah yang berat. Kaki basahnya meninggalkan jejak air di koridor, dan ia tahu di balik jendela guru-guru lain, ada beberapa yang melihatnya lewat dan memilih untuk berpaling.
Perjalanan pulang terasa sangat panjang. Angin sore menerpa tubuhnya yang basah, membuatnya menggigil. Bus kota yang ia tumpangi penuh sesak, dan beberapa penumpang menatapnya heran dengan seragam sekolah yang kotor dan basah. Agisa memilih melihat ke luar jendela, menatap gedung-gedung yang berlalu. Ketika harus turun, ia merogoh sakunya dan menemukan bahwa uang kembaliannya telah hancur basah. Pengemudi bus hanya menggeleng dan membiarkannya turun tanpa membayar, mungkin karena kasihan.
Agisa berjalan menuju rumah. Rumah kecil di gang sempit dengan cat dinding yang sudah mengelupas. Dari kejauhan, ia sudah mendengar suara TV dari dalam, tapi juga ada suara lain, suara yang lebih keras. Suara ayahnya.
Ia membuka pintu pelan-pelan. Aroma masakan sayur kangkung menyeruak. Ibunya, Rismayanti, sedang membersihkan meja. Dan ayahnya, Rudi, pria dengan perut buncit dan mata sembab, duduk di kursi ruang tamu dengan tangan bersilang.
Agisa baru saja meletakkan tasnya di lantai ketika ayahnya berdiri.
"Masak apaan sih, gak enak banget!" Rudi menggebrak meja. Piring berisi nasi dan kangkung oseng terangkat, lalu jatuh berceceran di lantai. Nasi berserakan, kuah kangkung mengalir lambat ke lantai keramik yang sudah retak di sana-sini.
"Gak bisa ya lo masak yang enak-enak? Ayam kek, ikan kek. Bosen gua makan kangkung lagi, kangkung lagi!" Rudi menyipitkan matanya pada istrinya.
Rismayanti menunduk, tangannya gemetar sambil mengambil kain pel. "Kan Abang gak kasih uang belanja lebih. Jadi aku beli seadanya."
"Halah! Alesan aja lo!" Rudi mendekat, bayangannya menutupi tubuh kecil istrinya. "Capek-capek gue kerja, tapi selalu dimasakin kayak gitu terus."
"Makanya Abang kasih uang belanja lebih, jangan cuma seratus ribu untuk satu minggu."
Rudi tertawa. Bukan tawa bahagia. Tawa mengejek. "Gak guna lo jadi istri!" Ia mendorong meja sekali lagi, membuat gelas plastik berisi air jatuh dan pecah di lantai. Lalu ia berjalan ke pintu, melewati Agisa yang berdiri diam di ambang pintu, tanpa sepatah kata.
Pintu rumah dibanting. Guncangannya terasa sampai ke dinding.
Agisa masih berdiri diam. Tubuhnya basah. Seragamnya kotor. Kepalanya sakit bekas pukulan Violet. Dan sekarang ia melihat ibunya berlutut di lantai, memunguti nasi satu per satu, air mata perlahan mengalir tanpa suara.
"Bu ... aku pulang," kata Agisa pelan.
Rismayanti menoleh. Matanya membulat saat melihat putrinya yang basah kuyup, seragam kotor, rambut kusut dan menetes. "Agisa! Kamu kenapa?"
Agisa membuka mulut. Ingin menceritakan semuanya. Tentang Violet. Tentang guru. Tentang ketidakadilan. Tapi saat melihat wajah ibunya yang sudah penuh air mata dan beban, ia menelan semuanya.
"Kehujanan, Bu," katanya datar. "Turun hujan di jalan."
Rismayanti menatapnya lama. Tahu bahwa itu bohong. Tapi ia terlalu lelah untuk bertanya lebih lanjut. Ia mengangguk pelan, lalu kembali memunguti nasi yang berceceran.
Agisa berjalan ke kamarnya yang sempit. Di balik pintu tertutup, untuk pertama kalinya hari ini, ia membiarkan dirinya menangis. Diam-diam. Tanpa suara.
Tapi di antara isaknya, ada satu pikiran yang mulai terbentuk.
Suatu hari nanti, aku tidak akan pernah hidup seperti ini lagi. Aku tidak akan pernah lemah. Aku tidak akan pernah miskin. Dan aku tidak akan pernah membiarkan siapa pun merendahkanku.
Suatu hari nanti, mereka semua akan melihat.
Di luar kamar, ibunya masih membersihkan lantai. Dan di kejauhan, suara TV masih terdengar, memutar acara komedi yang sama sekali tidak lucu.