Aku tidak menghitung seberapa lama aku menangis, tetapi kurasa itu cukup lama. Pak Davka diam saja dan hanya menungguku sampai berhenti. Kali ini aku benar-benar tak kuasa menahan diri dan menumpahkan semuanya dengan tangisan. Rasa marah, rasa takut, rasa kangen, semua bercampur jadi satu. “Ra ... baju saya basah kuyup ini lama-lama.” Mendengar itu, aku langsung menjauh dan mendongak. Pak Davka tersenyum, lalu mengusap air mataku dengan ibu jarinya. “Kamu sekangen itu, sampai nangis sebegininya? Atau— aduh! Kenapa saya malah dipukul?” “B-bapak jahat b-banget!” ujarku pelan dengan suara yang terbata-bata. Bayangkan saja. Orang ini seolah menghilang tanpa kabar. Ketika bertemu, dia tidak pernah menyapa atau paling hanya sekedarnya. Kenapa bisa, tiba-tiba hari ini dia sudah sampai Jakart