Pintu kedatangan bandara Soekarno-Hatta terbuka otomatis, dan Res belum sempat menarik kopernya sendiri ketika sesosok tubuh kecil sudah melesat menerjangnya.
"Res! Anak Mami akhirnya pulanh!" Ratih Bramantyo memeluk putrinya dengan sangat erat, sambil mengusap cepat punggung Res, pipinya bersandar bahu putrinya sambil menangis. Ratih lalu mencubit pipi res dengan gemas.
"Mami, sakit,b nanti pipi aku lecet," kata Res protes, tapi tetap membalas pelukan ibunya.
Ratih berhenti mencubit pipi res. "Biar lecet, yang penting Mami bisa deket kamu."
Di belakang Ratih, Bram atau Bramantyo berdiri dengan senyum. Pria berusia lima puluh enam tahun itu tidak berlari seperti istrinya, tapi Res tahu ayahnya juga senang. Bram hanya tidak pandai menunjukkannya.
"Papi!" kata Res melepaskan diri dari pelukan Ratih.
"Kamu kurusan," kata Bram sambil meraih koper putrinya.
"Enggak, Pi aku sama aja."
"Kurus bener kata papi," Ratih ikut-ikutan sambil memandangi Res dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Pokoknya Mami masakin banyak hari ini. Kamu harus makan yang banyak, ya."
Res mengenakan t-shirt hitam yang fit di badannya, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang montok. Celana barrel jeans longgar menyeimbangkan penampilannya. Rambutnya dikuncir kuda dengan poni khas Korea membuat pipinya yang chubby terlihat lebih kecil. Pipinya merah natural sejak dulu.
"Mobilnya parkir di depan," kata Bram. "Ayo, cepat, panas di sini."
"Jakarta memang panas, Pi, ausy juga" kata Res sambil berjalan di samping ibunya yang masih belum berhenti menggegam tangannya seolah takut hilang.
"Sekang kamu jangan pergi-pergi lagi," kata Ratih cepat. "Pokoknya sekarang kamu di rumah. Enggak Mami ijinin kamu balik ke Australia."
Res tidak menjawab. Dia hanya menggeleng
Perjalanan dari bandara ke rumah di kawasan perumahan Bram memakan waktu hampir dua jam. Macet, Res sudah lupa seperti apa macet Jakarta. Di Australia, dia terbiasa dengan transportasi umum yang tepat waktu. Di sini, klakson dan asap knalpot, tapi dia tetap cinta negaranya.
Begitu mobil memasuki garasi rumah besar, rumah yang lama Res tinggalkan. Dan saat ini Ratih sibuk berteriak ke arah asisten rumah tangga.
"Ayu, tolong angkat kopernya! Tolong hati-hati! Itu barang anak Mami!"
Res turun dari mobil, matanya menatap rumah yang dulu dia tinggali, masih sama,tidak berubah. .
"Mami masak apa?" tanya Res.
Ratih menarik tangan putrinya menuju ruang makan. "Semua kesukaan kamu. Ayo lihat!"
Meja makan yang panjang itu penuh dengan masakan. Res menelan ludah.bAyam goreng utuh, sambal terasi, ada juga lalapan timun, kemangi, selada, terong kecil. Dan di tengah meja, cumi-cumi hitam tumis cabai bawang putih.
"Porsi pesta, ini sih Mi," kata Res sambil duduk.
"Ya pesta lah, anak Mami pulang ke kampung, pulang ke rumah." Ratih menyahut senang biasanya dia hanya menangis setiap kali res telepon.
Bram ikut duduk di kursinya, kursi utama sudah mengambil piring dan mulai menyendok nasi untuk Res. "Makan yang banyak, papi enggak bohong kamu memang kurusan."
Res tidak membantah lagi, ia lalu mengambil sesendok nasi, lalu ayam, lalu sambal, lalu cumi. Suapan pertama saja sudah membuat matanya sedikit berkaca. Bukan karena pedas, tapi karena ini rasa rumah. Rasa masakan snag mami yang tidak bisa dia dapatkan di apartemennya di Australia, di restoran cepat saji tempatnya bekerja, atau di kafe-kafe mahal mana pun.
"Enak bangettt, Mi," puji Res kemudian mengunyah lagi makanannya.
Ratih tersenyum senang putrinya menyukai sajian yang sengaja dia buat hanya untuk Res. "Habisin, ya."
Mereka makan dalam diam beberapa saat. Hanya suara sendok dan piring yang terdengar. Bram sesekali menambahkan lauk ke piring Res. Ratih tidak berhenti memandangi putrinya.
"Res," panggil Ratih.
"Hm?"
"Pokoknya Mami serius. Mami enggak ijinin kamu ke Australia lagi."
Res menghentikan sendoknya. Dia menatap ibunya, lalu beralih ke Bram yang tiba-tiba sibuk memotong cumi.
"Terus aku kerjanya gimana, Mi? Aku enggak mungkin kan terima uang buat Papi dan Mami terus?"
Ratih melirik ke suaminya, lalu Bram meletakkan garpunya.
"Gampang. Kalau itu sayang, Papi bisa atur. Kamu kerja di kantor aja. Posisi apa pun yang kamu mau." Sebenarnya bagi Bram memberikan uang ke putrinya itu sama sekali bukan masalah tapi ia tahu kalau Putri bungsunya itu pasti akan menolak.
Res menatap sang ayah"Papi serius?"
"Papi serius, Candramawa Corp butuh orang muda. Apalagi kamu lulusan bisnis dan manajemen cumlaude." Bram katakan dia tau kemampuan putrinya.
Res mengangguk pelan. Dia mengambil cumi lagi dan memakannya dengan lahap. Tidak ada penolakan, tidak ada perdebatan. Semua karena dia sudah lelah berdebat.
"Oya, sayang, besok malam Mami mau undang keluarga Kinan dan keluarga Yogi untuk makan malam di sini." Ratih katakan dengan bersemangat.
Res mengunyah pelan. "Acara apa, Mi?"
"Acara kumpul-kumpul saja. Biar kamu ketemu mereka lagi. Kan sudah lama enggak bertemu, sama penyambutan kamu kecil-kecilan mengundang teman-teman lama kan asik tuh. "
"Ya udah oke Mi," kata Res singkat.
Matanya kembali ke makanan, ayam goreng di piringnya belum habis. Cumi tumisnya masih tersisa setengah. Dia hanya fokus ke piringnya dan tidak memikirkan apapun tentang besok malam.