Australia Indonesia
"Nanti kamu bisa datang kan Nak?"
"Iya bisa Pi, ini udah siap-siap."
"Oke, papi udah bilang ke temen papi anak kesayangan papi mau datang." Bram katakan dari balik telepon.
"Papi—" Res merengek.
"Ya gimana kan emang anak kesayangan," sahut Bram sambil terkekeh.
"Yaudah aku berangkat Pi."
"Hati-hati nyetirnya."
"iya Pi."
Tinggal di Australia adalah salah satu hal yang Res syukuri. Ia kerja paruh waktunya di fast food restaurant dekat kampus dulu. Orang-orang hanya menganggapnya Res, tidak ada Bullyan atas tubuhnya. Mereka semua sama, tidak ada panggilan gajah bengkak, atau orang yang sinis dan ketus padanya.
Sore ini dia tidak shift di resto, tapi dia tetap keluar rumah karena ada monthly networking event untuk para lulusan baru di bidang bisnis dan manajemen. Ini adalah sebuah acara yang disponsori oleh beberapa perusahaan, termasuk Candramawa Corp. Meskipun Res tidak suka acara seperti ini, kehadirannya tetap diminta, lewat email.
"Putri Bapak Bramantyo diharapkan hadir untuk memperkuat hubungan kerja sama."
Kalimat itu yang kadang membuat Res malas. Hanya saja ia suka datang dan membangun relasi di sana. Meksi di acara itu, dia hanya akan dilihat sebagai kepanjangan tangan papinya, bukan sebagai dirinya sendiri.
"Sampai juga." katanya kemudian turun dari mobilnya.
Acara diadakan di sebuah hotel berbintang di Melbourne, para peserta berdasi, Res datang dengan blazer hitam, merk ternama, makeup soft tapi ia buat sedikit bold di bagian mata, dia tau penampilan adalah cara untuk menghargai diri sendiri.
Dia berdiri di dekat meja makan, melihat hidangan.
"Ini Res, restu? Anak bapak Bram?" Seorang pria paruh baya dengan kumis tebal mendekat. Res mengenalinya, salah satu mitra bisnis papinya..
"Oh, iya betul, selamat sore, Pak Hendra ya?" Tanya Res ragu.
"Betul, saya Hendra dari Tridaya. Gimana Pak Bram sehat? Terakhir ketemu di sini enam bulan lalu, beliau masih sibuk tuh sama proyek pelabuhan."
"Sehat, Pak. Papi saya baik-baik saja." Res menjawab sopan.
Percakapan singkat itu berlanjut ke topik kerja sama, peluang pasar, dan pujian-pujian kosong tentang "betapa beruntungnya Bramantyo memiliki putri sepintar ini." Res hanya mengangguk, tersenyum, dan berusaha tidak melirik ke arah pintu keluar.
Dia benci acara seperti ini. "Basa-basi." Batinnya.
Setelah satu jam berkeliling ruangan, Res pamit dengan alasan "ada urusan lain." Dia keluar dari hotel, mengganti blazer dengan jaket jeans tipis di dalam mobil dan melaju ke tempat kerjanya yang lain.
Restoran cepat saji, cabangnya ada di pinggiran kota, tempat dia biasa menjadi crew shift malam.
"Hola," sapa Res.
"Yo, Res! Lo datang! Kirain lo libur hari ini?" sapa Rara, teman kampus dan teman satu shift sama-sama dari Indonesia.
"Acara siang kelar lebih cepet, Ra. Jadi sekalian ngisi shift, lagian lumayan cuan." Res katakan lagi.
"Lo tuh kerja terus, istirahat dong. Lulus S2 masih aja nggak bisa santai. Nyantai lah dikit." Kata Rara sambil mengelap meja.
Restu tertawa, santai bisa saja. Hanya saja dia mau bekerja, dia suka bekerja di sini. "Enakkan di sini sama lo."
"Ya jangan gitu. Lo kan bisa minta ortu—"
"Ra." Restu memotong. "Aish, Udah ah kerja yuk."
Rara mengangkat kedua tangan. "Iya, iya. Lo nggak mau bergantung sama keluarga. Gue tahu sih, ya, tapi kasian loh, lo tuh kerja kayak kuda."
"Biarin, gue kuat.’
Dan benar. Res kuat, bukan karena apa-apa karena dia ADHD. Jika diam, pikirannya akan sibuk memikirkan ini dan itu, bergerak dan melakukan aktivitas membuat pikirannya lebih tenang dan tidak lompat-lompat memikirkan hal lain.
Shift selesai. Res melepas apron, melipatnya rapi, dan menyimpannya di loker. Tas selempang coklat digantungkan di bahu.
"Res, pulang bareng?" tanya Rara dari pintu.
"Lo duluan aja, Ra. Gue mau jalan kaki bentar."
"Hati-hati, ya. Besok shift pagi lagi loh."
"Iya, iya."
Res pulang setelah ia selesai merapikan dapur.
***
Ruangan kerja itu di gedung Amore corp, tempat Yogi bekerja setiap hari. Pria berkulit putih itu, sudah tiga jam duduk di balik meja kerjanya, bolak-balik dokumen kontrak kerja sama dengan tiga klien berbeda.
Clarissa masuk tanpa mengetuk, seperti biasa. Tangannya membawa cangkir l berisi air putih.
"Pak Yogi," ucap Clarisa sambil meletakkan cangkir di atas meja. "Bapak sudah ngobrol nonstop sama klien selama dua jam. Bapak pasti haus."
Yogi menoleh Clarissa berdiri di samping mejanya. Wajahnya tidak banyak ekspresi, tapi matanya memperhatikan gelas air yang baru saja dia letakkan.
"Kamu selalu perhatian," kata Yogi.
"Karena Bapak selalu lupa minum."
"Sebenarnya bukan tugas kamu."
Clarissa tersenyum tipis. "Saya sadar. Tapi saya tidak tega melihat atasan saya sakit maag karena lupa makan dan minum."
Yogi menghela napas, da meraih cangkir itu dan meneguk airnya. Lebih segar karena Clarisa yang mengambil untuknya.
"Clar." Panggil Yogi.
"Ya, Pak?"
"Kamu sudah makan siang belum?" Tanya Yogi masih sambil membaca dokumen.
Clarissa menggeleng. "Belum. Saya baru selesai mengatur ulang jadwal Bapak. Rapat tadi molor satu jam, jadi jadwal makan siang Bapak bergeser juga."
"Hmm, gimana kalau saya traktir kamu. Karena kamu mau sibuk ngatur jadwal ulang." Yogi katakan agar memiliki alasan.
Clarissa terdiam sejenak. "Maaf, Pak Yogi. Saya enggak enak."
"Kenapa harus enggak enak?"
"Ya, karena Bapak atasan saya. Saya cuma melakukan tugas saya. Jadi bapak enggak perlu traktir-traktir."
Yogi menatap Clarissa lebih lama dari biasanya.
Baik banget, pikirnya. Enggak mau memanfaatkan. Padahal dia bisa aja bilang iya. Bisa minta traktir mahal, tapi dia nolak. Dan itu tepat tipe perempuan yang Yogi suka.
"Ya sudah. Lain kali kalau begitu."
Clarissa mengangguk. "Saya keluar dulu, Pak Yogi."
"Silakan."
Clarissa berjalan ke pintu, membuka pintu, melangkah keluar, dan menutupnya kembali tanpa suara.