bc

Too Late For Regret, Doctor

book_age18+
55
IKUTI
1K
BACA
age gap
pregnant
heir/heiress
drama
bold
like
intro-logo
Uraian

Satu malam kesalahan di usia delapan belas tahun merenggut seluruh masa depan Rosdiana. Karena cinta naifnya pada dr. Aldi Djuhardian—putra majikan ibunya—ia dituduh licik dan dijebak dalam kehinaan. Berbeda status sosial, keluarga kaya itu menolak pernikahan. Hak asuh bayi yang dilahirkannya direbut secara paksa, ditukar dengan uang kompensasi 200 juta rupiah serta pengusiran kejam. Sebelum pergi membawa luka, Rosdiana hanya memohon satu hal pada pria yang dibencinya sekaligus dicintainya itu, "Tolong jangan benci anak kita."

*

Lima tahun berlalu. Rosdiana bertransformasi menjadi wanita mandiri, cerdas, dan anggun yang bekerja sebagai staf keuangan di RS Sentra Andalas, Padang. Ia telah mengubur masa lalunya dan menata kembali puing-puing hidupnya.

*

Namun, takdir memainkan komedi yang kejam. Pemilik rumah sakit baru itu tak lain adalah dr. Aldi Djuhardian. Pria itu datang memboyong istrinya yang cantik berkelas, serta seorang anak laki-laki berusia empat tahun bernama Ellio—buah hati kandung Rosdiana yang kini menganggap wanita lain sebagai ibunya.*Saat naluri keibuan Rosdiana memberontak ingin memeluk darah dagingnya, dr. Aldi justru hadir membawa ancaman dingin, "Jangan pernah berani mendekati Ellio. Saya harus menjaga perasaan istri saya."

*

Rosdiana hanya bisa tersenyum pahit. Ia bukan lagi gadis polos yang mengemis cinta sang anak majikan. Namun, di saat Rosdiana mulai membuka hati untuk pria lain dan berdiri tegak dengan harga dirinya, mengapa ada rasa cemburu dan penyesalan yang membakar d**a sang dokter?

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1. Malam Yang Merenggut Masa Depan
Aroma maskulin berpadu single malt yang menyengat memenuhi udara kamar bernomor 804. Di atas ranjang berseprai putih yang kusut, dr. Aldi Djuhardian terbaring pasrah, napasnya berat dan terengah. Pandangannya kabur, tertutup kabut tebal akibat pengaruh alkohol yang entah bagaimana terasa jauh lebih pekat dari biasanya. Tubuhnya yang kokoh terasa lumpuh, tak mampu menolak ketika sepasang tangan halus yang gemetar merengkuh pinggangnya. Di atas tubuh pria itu, Rosdiana menahan napas. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga rasanya hendak melompat keluar dari rongga d**a. Jemarinya yang dingin meraba d**a bidang Aldi yang naik turun tak beraturan. Ada rasa takut yang luar biasa merayapi tenggorokannya, tetapi rasa cinta yang naif—cinta gila yang telah membusuk di dalam dadanya selama bertahun-tahun—membakar habis seluruh akal sehat gadis delapan belas tahun itu. "Mas Aldi," bisik Rosdiana dengan suara yang bergetar pecah. Pria di bawahnya hanya menggeram rendah. Mata Aldi setengah terpejam, iris cokelat pekatnya tidak benar-benar fokus menatap wajah di hadapannya. Dalam halusinasi panas yang membakar kesadarannya, Aldi tidak bisa mengenali siapa sosok yang sedang menyentuhnya. Yang ia rasakan hanyalah dorongan gairah primitif yang dipaksa meledak oleh racun zat asing yang mengalir di pembuluh darahnya. Malam itu, di dalam kamar hotel yang megah namun dingin, garis batas kesucian dan dosa terkoyak. Rosdiana menyerahkan segalanya—kehormatannya, kepolosannya, dan masa depannya—ke dalam kepungan gairah bisu yang tidak didasari oleh rasa cinta sedikit pun dari pihak pria. Sentuhan Aldi terasa membakar kulitnya, namun tatapan kosong pria itu menggoreskan luka pertama yang amat dalam di hati Rosdiana. Di tengah rintihan dan napas yang beradu, Rosdiana menyadari satu hal yang teramat pahit: ia sedang memeluk bayangan, mengejar ikatan dengan pria yang bahkan tidak sadar siapa yang sedang mendekapnya. *** Cahaya fajar menembus celah gorden tebal, menjatuhkan garis-garis emas di atas lantai kayu yang dingin. Udara pagi yang menusuk tulang perlahan mengikis kabut racun dari kepala Aldi. Pria dua puluh delapan tahun itu mengerang pelan. Rasa pening yang luar biasa menghantam pelipisnya bagai pukulan godam. Ia memegang kepalanya, berusaha mengumpulkan kembali ingatan semalam yang terputus-putus. Namun, begitu pandangannya menjangkau sisi ranjang, seluruh darah di tubuhnya serasa berhenti mengalir. Seorang gadis sedang duduk tersudut di tepi tempat tidur, memeluk lututnya yang gemetar. Gaun berbahan katun milik gadis itu terkoyak di bagian bahu, tergeletak tragis di atas lantai bersama pakaian dalam yang berantakan. Gadis itu menunduk dalam-dalam, bahunya terisak tanpa suara. Rambut hitamnya yang panjang dan lebat terurai menutupi sebagian wajahnya yang sembap. "Ros ... diana?" Suara Aldi terdengar parau, tercekik oleh rasa terkejut yang teramat sangat. Pria itu menyibakkan selimut, lalu tertegun melihat noda merah pekat yang mengering di atas kain seprai putih. Kepalanya berputar hebat. Ingatan semalam berputar bagai kilatan petir: rasa pening yang aneh setelah ia meminum segelas minuman di bar hotel, rasa panas yang tidak wajar, dan ... kehadiran gadis kecil anak tukang masak di rumah orang tuanya ini. "Apa yang ... apa yang kamu lakukan di sini?!" bentak Aldi. Tangannya yang gemetar bergerak cepat mengenakan celana panjangnya yang tergeletak di lantai. Rosdiana makin menenggelamkan wajahnya di antara kedua lutut. Isakannya kini tak lagi bisa ditahan, meluncur menjadi tangisan yang pilu. "Mas ... maafkan Rose ...." "Jangan panggil aku Mas!" jerit Aldi dengan suara tertahan. Napas pria itu memburu, matanya merah padam oleh kemarahan dan kepanikan yang menyatu. Ia melangkah mendekati Rosdiana, menarik kasar bahu gadis itu hingga pandangan mereka bertemu. Wajah Rosdiana pucat pasi, matanya bengkak dengan jejak air mata yang masih basah di pipinya. Ada ketakutan terpancar jelas dari manik matanya, tetapi di balik ketakutan itu, ada sisa kepasrahan yang teramat dalam. "Kamu," Aldi menunjuk wajah Rosdiana dengan jari yang bergetar hebat. Tatapannya yang biasa tenang dan penuh wibawa sebagai seorang dokter muda, kini berubah menjadi tatapan benci yang menguliti. "Kamu jebak aku, kan? Minuman itu ... bagaimana bisa kamu ada di kamar hotelku?!" "Rose cuma ... Rose cuma tidak mau Mas Aldi pergi meninggalkan Rose," cicit gadis itu, suaranya sangat lirih, hampir tenggelam oleh ketakutan akan amarah pria di depannya. "Rose dengar Pak Djuhardian mau menjodohkan Mas Aldi dengan wanita kota itu ... Rose mencintai Mas Aldi sejak Rose masih kecil." PLAK! Suara tamparan itu tidak berbunyi keras, tetapi kehampaan yang mengikutinya jauh lebih menyakitkan daripada rasa panas di pipi Rosdiana. Aldi menahan tangannya di udara, gemetar oleh kemurkaan yang tak tertampung. Ia tidak percaya bahwa gadis yang ia anggap seperti adiknya sendiri—gadis polos yang sering berlarian di halaman belakang rumahnya sambil membantu Bibi Rahmi—sanggup melakukan tindakan sepicik dan sedominan ini. "Cinta?" Aldi tertawa sumbang, sebuah tawa dingin yang mengiris udara pagi. "Kamu sebut tindakan menjijikkan ini cinta, Rose?! Kamu itu anak pembantu di rumahku! Kamu pikir dengan cara murah seperti ini aku bakal berlutut dan menikahimu?!" Kata-kata itu menusuk tepat di ulu hati Rosdiana. Beda status sosial yang selama ini menutup matanya kini dibentangkan lebar-lebar di depan wajahnya, sangat nyata dan menghancurkan. "Mas ...." "Tutup mulutmu!" bentak Aldi, suaranya dipenuhi kejijikan yang teramat sangat. Ia membelakangi Rosdiana, mengusap wajahnya dengan kasar sambil berjalan bolak-balik di kamar yang kini terasa bagai neraka. "Kamu tahu apa yang baru saja kamu hancurkan, Rose? Karirku! Namaku! Dan reputasi keluargaku! Kamu menghancurkan segalanya hanya demi obsesi gilamu!" Rosdiana memandangi punggung pria itu. Pria yang selama ini menjadi matahari dalam hidupnya, pria yang selalu tersenyum ramah setiap kali ia menyajikan teh hangat di ruang baca, kini menatapnya seolah-olah ia adalah hama yang sangat menjijikkan. Rasa sakit karena kehormatannya yang hilang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kehancuran bayangan cinta yang selama ini ia agungkan. "Pakai pakaianmu sekarang," perintah Aldi tanpa berbalik, suaranya dingin bagaikan es di puncak gunung. "Keluar dari sini sebelum ada orang yang melihatmu. Dan berdoa saja ... berdoa pada Tuhanmu agar tidak ada hal buruk yang terjadi setelah malam ini. Jika sampai terjadi apa-apa ... aku tidak akan pernah memaafkanmu seumur hidupku." Rosdiana tidak menjawab. Dengan tangan yang terus bergetar, ia memungut pakaiannya satu per satu. Setiap gerakan terasa begitu berat, seolah badannya dihantam ribuan batu. Rasa dingin merayapi sel-sel tubuhnya, bukan karena udara AC yang berembus, melainkan karena ia sadar bahwa malam yang ia kira akan menyatukan takdirnya dengan pria impiannya, justru menjadi awal dari kehancuran hidupnya sendiri. Dengan langkah terpincang dan kepala menunduk dalam, Rosdiana melangkah keluar dari kamar bernomor 804. Pintu kamar tertutup rapat di belakangnya dengan bunyi dentum yang bergema di lorong hotel yang sepi, mengunci seluruh masa mudanya dalam kegelapan dosa yang tak terpindahkan.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Kali kedua

read
223.5K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
24.4K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
26.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
197.3K
bc

MENCINTAIMU TANPA SENGAJA

read
1.3K
bc

Langit Tak Selalu Abu-Abu

read
125.6K
bc

Mencintaimu Suami Kejamku

read
9.8K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook