Pergerakan cepat Arkanu sungguh tak terbaca. Pria itu menahan kepergian Mikaela. Merendahkan kepala sebelum kemudian membungkam sang personal assistant dengan ciuman menuntutnya.
“Emphh.. Emphh...”
Arkanu memburu Mikaela ditengah perlawanan sang asisten. Seolah tak peduli dengan penolakan yang diterimanya, ia terus menahan tengkuk wanita itu, menyesap buas, dan tak mengizinkan tautan keduanya terlepas dalam waktu yang lama.
Apa yang Mikaela lakukan benar-benar melukai egonya. Arkanu marah. Penolakan itu justru melahirkan obsesi pada diri Arkanu akan betapa inginnya ia untuk menghancurkan kepercayaan diri asistennya.
“Berhen-ti!”
Sayangnya, Arkanu telah menulikan telinga. Begitu pun dengan kedua mata yang sengaja ia butakan, demi untuk memberikan pelajaran kepada wanita yang telah berani melukai egonya.
Puas dengan bibir Mikaela yang ia buat menebal, ciumannya lantas berpindah, mengincar tepian leher yang kemudian ia bubuhkan tanda sebagai bentuk tanda kepemilikannya.
Siang itu, Arkanu tak hanya berhenti disana. Kemarahan yang ia rasakan, mendorong hasratnya untuk menyentuh kembali Mikaela. Sentuhan itu berlangsung cukup lama, bahkan sampai berulang.
Andai Mikaela tak sedang mengandung buah dari malam panas perjalanan bisnis mereka, Arkanu pasti tidak akan pernah berhenti sampai kemarahan di dalam dirinya benar-benar menghilang.
Menutup pintu kamar setelah memastikan Mikaela tak lagi terjaga, Arkanu yang telah bertekad pun, segera menghubungi Dirman sekaligus adik sepupunya. Ia memerintahkan keduanya untuk segera bertolak ke apartemennya.
“What the? Kemana baju Anda Bapak Arkanu yang terhormat?” sentak Dewita. Gadis berusia 27 tahun itu terkejut, melihat Arkanu yang topless saat membukakan pintu unitnya.
“Lama sekali kamu.” Protes Arkanu karena anak dari tentenya itu tinggal tepat di depan unit apartemennya.
“Jam berapa Mas? Aku otw-nya dari kantor.”
Arkanu mendengus. Ia mendudukkan diri ke single sofa, kemudian diikuti oleh Dewita yang memilih untuk menduduki sofa panjang di ruang tamu kakak sepupunya.
“Kantor heboh?”
Pertanyaan macam apa itu. Dewita bahkan sampai merolling bola matanya.
“Mas nggak cek daftar panggilan? Om Aksa ada telepon Mas kok. Aku liat sendiri soalnya dia teleponnya di depan mejaku.”
“Hmm.. I've called him back.”
Arkanu tidak berdusta. Ia memang sudah menghubungi sang ayah sembari menunggu kehadiran adik sepupunya. Di dalam sambungan telepon itu, ada banyak hal yang Arkanu karang, termasuk tentang Mikaela yang ia sebut hanya pingsan sesaat, dan dirinya yang kemudian pergi untuk menemui temannya.
“Mas, Bu Mika beneran hamil? and is it yours?”
Dengan jemari mengetikkan pesan perintah untuk Dirman, Arkanu membenarkan pertanyaan adik sepupunya. Ia tak mengelak dan malah menjelaskan jika dirinya akan mengambil tanggung jawab dengan menikahi Mikaela.
“Hah? Mas, wait, kamu bercanda kan? Gimana bisa kamu nikahin Bu Mika, kalau sebentar lagi aja kamu bakalan nikah sama Elea?”
“Siri, Dewita. Itu kenapa makanya Mas panggil kamu kesini.”
Arkanu memaparkan apa yang akan ia lakukan, termasuk juga tentang dirinya yang membutuhkan bantuan Dewita untuk menjaga Mikaela selama masa kehamilannya.
“Mas mau kamu tampung dia di unit kamu.” Karena tak mungkin untuk mereka hidup di atap yang sama mengingat Elea terkadang menginap di apartemennya.
“Are you crazy?! Nggak, nggak! Jangan libatin aku Mas. Tahu rahasia kamu ini aja udah bikin nyawaku berkurang banyak.”
“Ayolah, Dew. Kalau nggak ada yang jaga, Mika bisa kapan aja bawa kabur anakku. She refused to accept my responsibility.” Ucap Arkanu. Dadanya terasa nyeri mengingat betapa gigihnya Mikaela dalam menolak pertanggung jawabannya.
“Malah bagus kan, Mas? Mas tinggal kasih uang. Beres.”
Dada yang bergejolak itu kian bergemuruh mendengar penuturan tak berotak adik sepupunya.
“Dewita Diprojo, dengar ini! Itu anakku dan aku tidak akan melepaskannya, sekalipun itu untuk ibunya.” Tegas Arkanu dengan kedua matanya yang berkilat memendam amarah.
“I’ll give you anyting. Cukup jaga dia dan lindungi rahasia pernikahan kami. Lagipula, disana dia hanya akan menumpang tidur saja.”
Dewita bergidik, merasa ngeri sendiri dengan apa yang berputar di kepalanya setelah mendengar pengaturan sang kakak.
Tin.. Tong..
Arkanu mengedikkan dagunya. Ia meminta Dewita beranjak, membuka pintu untuk Dirman dan beberapa orang yang ia perintahkan untuk hadir bersama dengan supirnya itu.
“Tunggu sebentar.” Pinta Arkanu, lalu melangkahkan kaki menuju kamar yang beberapa saat lalu ia tinggalkan.
**
“Sah?”
Terdapat lima saksi nikah termasuk Dewita dan Dirman yang lantas menyerukan kata, ‘sah,’ hingga menjadikan Mikaela sebagai istri siri seorang Arkanu Dipraja.
Pernikahan itu berjalan begitu cepat dibawah tekanan yang Arkanu berikan sehingga membuat Mikaela terpaksa menerima pinangan atasannya.
Mikaela melakukan semua ini demi anak yang terlanjur tak mungkin bisa lagi untuk ia lenyapkan. Arkanu mengancamnya dan dengan kekuasaan pria itu, kapan pun, dimana pun tempat persembunyiannya, Arkanu tentu saja dapat merealisasikan ancamannya.
Arkanu memberikan amplop dengan sejumlah uang yang ia titipkan kepada Dirman untuk penghulu, serta tiga orang saksi yang menjadi wali nikahnya. Setelah itu, ia pun meminta Dirman mengembalikkan keempatnya.
Ketika pintu apartemen Arkanu akhirnya tertutup untuk kesekian kalinya, satu-satunya pihak lain yang menetap di dalamnya hanyalah Dewita.
“Gizz! yang bener aja, Mas! Kalau doyan tuh liat-liat kondisi. Masa orang abis pingsan masih kamu hajar sampe segitunya.” Cibir Dewita yang secara tidak sengaja, melihat banyaknya tanda yang ia temui berkat tersingkapnya rambut panjang Mikaela.
“Sumpah, ini ngawurnya, ngawur banget. Junior Mas Arkan kalau susah setia, seenggaknya mainnya pake karet. Kayak yang amatiran aja, heran.”
Arkanu melirik sesaat Mikaela dengan ekor matanya.
“Anak kecil kayak kamu tau apa.” Balasnya kepada Dewita. “Kamu lakuin aja apa yang jadi tugas kamu. Kalau dia sampe menghilang, kamu juga akan kena getahnya.”
Sontak, tidak hanya Dewita saja yang langsung mengarahkan tatapan ke arah Arkanu. Mikaila yang menjadi isi pembicaraan, menatap pria itu dalam, seolah ia tengah menyampaikan kekesalan yang tak berani ia keluarkan.
‘”Cih, dia yang berulah, orang lain yang sengsara.” Tak ingin lagi terlalu lama berhadapan dengan kegilaan kakak sepupunya, Dewita pun membangkitkan tubuhnya.
“Bu Mika mau pulang ke unitku sekarang, nggak? Kalau nggak, nanti aku kirimin sandinya.” Ujar Dewita, tak lagi formal seperti saat keduanya berbincang di kantor.
“Saya ikut.”
“Duduk!” Balasan Mikaela terlontar bersamaan dengan perintah yang Arkanu berikan kepadanya. “Masih ada banyak hal yang harus kita bahas. Malam ini kamu menginap disini.”
Mikaela tampak akan membantah, tapi Arkanu menghujamkan delikkan tajamnya.
“Aku balik.” Dengan langkah cepat, Dewita berlalu untuk menghindar dari perselisihan yang mungkin akan segera pecah diantara keduanya.
Bunyi, ‘Klik!,’ yang terdengar menandakan jika Dewita telah sepenuhnya pergi.
“Kemari..”
“Mikaela..”
Melihat Mikaela tak bergeming juga, Arkanu pun mengulang kembali perintahnya.
“Kemari atau sofa itu akan berubah menjadi tempat yang membuat kamu mengerangkan nama saya semalaman?!”