[3]

1146 Kata
“Kamu gila? Untuk apa saya menggugurkan anak sendiri!” Sentak Arkanu, terdengar sangat marah kala mendengar kata-kata Mikaela. Tingginya suara Arkanu membuat seorang petugas medis menegurnya. “Mohon tenang, Pak. Teriakan Bapak mengganggu pasien lain.” Arkanu menyugar rambutnya. “Tangani wanita ini dengan baik. Lakukan apa saja untuk mengetahui apakah dia hamil atau tidak.” Setelah itu Arkanu meninggalkan bilik ranjang Mikaela dan memilih duduk di kursi tunggu tak jauh dari kubikel jaga para tenaga medis berada. “Sudah pernah melakukan uji kehamilan dengan testpack?” tanya suster yang kini tengah memasangkan jarum infus ke tangan kiri Mikaela. Pertanyaan itu Mikaela berikan anggukkan. “Hasilnya?” “Garis dua semua.” Jawab Mikaela, lemah. “Kalau begitu, kemungkinan kamu hamil, memang benar. Nanti akan saya sampaikan ke dokter jaga supaya kamu diberikan rujukan untuk kontrol ke dokter kandungan.” Setelah mengatur laju infus, sang perawat kembali berkata, “sementara tunggu infusnya habis ya. Kamu pingsan karena lemas. Dulu ketika mengandung anak saya, saya juga seperti kamu. Untuk makan saja, banyak sekali perjuangannya.” Tak ada penghakiman. Mungkin karena sosok yang mengetahui kehamilannya, merupakan tenaga medis yang tak mencampur adukan opini pribadi ke dalam keprofesionalitasan kerjanya. Sepanjang menghabiskan cairan infusnya, batang hidung atasannya tak terlihat. Mikaela sempat mengira jika pria itu telah angkat kaki dari rumah sakit. Namun, kemunculan tiba-tiba Arkanu kala ia hendak menjalani pemeriksaan lanjutan ke Poli Obstetri dan Ginekologi (Obgyn), menghempas pemikiran Mikaela tentang Arkanu yang meninggalkannya. Pria itu menemaninya. Bersamanya, Arkanu menyimak tenang seluruh penjelasan yang dokter berikan kepada mereka. Lalu setelah semuanya selesai, dengan dalih ingin berbicara empat mata, Arkanu mengusir Dirman. Meminta sang supir untuk pulang menggunakan transportasi umum, sedang dirinya akan menyetir seorang diri dengan mobilnya. “Kamu yatim piatu yang besar di panti asuhan kan?” “Ya?” Pekik Mikaela rendah, memalingkan wajah untuk menatap Arkanu disampingnya. Ia cukup terkejut dengan pertanyaan Arkanu yang menanyakan latar belakangnya. “Untuk menikah, kamu tidak membutuhkan wali dari keluarga, benar?” “P-Pak.. Sa-ya..” “Diam saja. Saya akan menikahi kamu. Tapi seperti yang kamu tahu, saya tidak bisa mengakui kamu sebagai istri, karena sebentar lagi, saya akan menikah dengan Elea.” Arkanu mencengkram roda kemudi. Ia gila sebab untuk melepaskan Mikaela, sisi terbrengsek di dalam dirinya begitu keras melarang. Namun pernikahannya dengan Elea, kekasih sekaligus wanita yang dipilih oleh opanya, hanya menunggu hitungan bulan, dan tak akan mungkin juga ia batalkan. Arkanu tak ingin pernikahannya gagal. Elea adalah pencapaian terbesarnya. Pun, opanya memilih wanita itu bukan tanpa perhitungan yang matang. Singkatnya, keluarga mereka setara. Elea pun memiliki karir cemerlang yang keberadaannya dapat menyeimbangkan dirinya sebagai seorang pewaris keluarga. “T-Tidak perlu sampai sejauh itu, Pak. Baik sekarang maupun nanti, saya tidak akan menuntut Bapak untuk bertanggung jawab. Cu-Cupuk izinkan saya untuk resign saja.” Akhirnya, keberanian itu muncul juga. Meski tidak melalui draft yang ia susun rapi, tapi Mikaela lega karena akhirnya ia dapat menyampaikan niatnya untuk hengkang dari pekerjaannya. “Resign ya? Lalu mau kamu kemanakan anak saya? Pergi ke negeri antah berantah dan membuat dia hidup serba kesusahan?” Deg! Kata-kata santai dengan kekehan di ujung kalimat itu entah mengapa terdengar begitu merendahkan ditelinga Mikaela. Mikaela tahu ia tidak kaya. Uang tabungannya pun tak seberapa karena biaya hidup sebagai personal asisten memaksanya untuk tampil setara dengan atasannya. Namun, menyeret anaknya ke dalam lingkaran kemiskinan, jelas tak pernah ada didalam benak Mikaela. Terpancing dengan amarah yang menyentil egonya, tanpa berpikir, Mikaela pun membalas, “kalau begitu, saya gugurkan saja. Anak ini lebih baik tidak terlahir, dibandingkan terlahir tidak berkecukupan dengan ibu miskin seperti saya.” Siapa sangka jawaban Mikaela itu rupanya mampu memantik rasa bersalah atas keimpulsifan Arkanu dalam berkata-kata. Seingat Arkanu, Mikaela tak pernah berkata setajam ini. Tidak, kecuali saat beberapa waktu lalu, ketika wanita itu berkata jika ia tidak berniat untuk menjual diri kepadanya. “Turun. Kita sudah sampai.” Mikaela menatap ke luar mobil yang ditungganginya. Benar, mereka sudah sampai di basement apartemen mewah milik atasannya. “Saya akan pulang ke apartemen saya sendiri, Pak. Mohon maaf, tapi bisakah Bapak mengizinkan saya untuk cuti, satu hari ini saja?” Arkanu mengembuskan napasnya, lelah. “Kita perlu bicara, Mikaela. Ikut saya ke atas.” Untuk membuat Mikaela tak kabur dari pembicaraan mereka, Arkanu menggiring Mikaela tepat setelah ia membukakan pintu mobil untuk asistennya itu. “Duduklah. Saya ambilkan air untuk kamu meminum obat. Pastikan kamu tetap disana, dan jangan berani-berani pergi, atau kamu akan tahu sendiri akibatnya.” Pesan Arkanu begitu keduanya masuk ke dalam unit apartemennya. Uluran botol air mineral yang selalu Mikaela restock ke dalam lemari pendingin Arkanu, Mikaela terima meski ia setengah tak rela. “Dengar Mika, saya bukan orang yang tidak bertanggung jawab.” Mikaela diam. Ia lelah. Ia ingin semuanya cepat berlalu sehingga ia bisa mengistirahatkan diri dari penatnya jiwa yang tengah membelenggunya sekarang. “Untuk kebaikan anak itu, saya akan menikahi kamu. Saya akan memberikan apa yang menjadi hak kamu sebagai istri saya meski saya harus menyembunyikan kamu. Terpenting, saya akan membuat anak itu memiliki akta kelahiran yang lengkap.” Mikaela tak menanggapi kicauan Arkanu. Terbongkarnya kehamilannya menambah kelelahan fisik dan mental yang ia derita sehingga ia tak lagi memiliki daya untuk beradu mulut dengan atasannya. “Setelah saya resmi menikahi Elea dan anak itu lahir, saya akan mengajukan isbat, agar anak itu bisa memiliki nama saya di akta kelahirannya.” Arkanu menyerngitkan kulit keningnya. “Mikaela, kamu mendengarkan saya?” Melihat keterdiaman serta kosongnya pandangan mata Mikaela membuat Arkanu akhirnya tersadar jika wanita itu tak mendengarkan apa yang sedari tadi ia katakan. “Kita menikah sekarang.” Barulah ketika kalimat itu terlontar, respon Mikaela akhirnya terlihat dengan kedua bola matanya yang membesar. “Saya akan datangkan penghulu dan kita menikah saat ini juga.” “Bapak gila, saya tidak mau!” Mikaela bangkit. Ia menyampaikan pandangannya tentang Arkanu yang saat ini, tidak sedang berada di dalam kondisi yang jernih untuk menentukan keputusan. “Pak, demi Tuhan, saya tidak membutuhkan tanggung jawab. Saya bisa mempertanggung jawabkannya sendiri. Pernikahan atau apapun-lah itu, Bapak lakukan saja dengan calon istri Bapak. Masalah anak ini, biarkan itu menjadi urusan saya.” Rahang Arkanu mengeras. Di dalam mulutnya, gigi-gigi terawatnya saling bergesekan, menciptakan gemeletuk pelan yang hanya dapat ia dengarkan. “Kalau Bapak mengkhawatirkan saya yang mungkin akan berubah pikiran, lalu mengganggu pernikahan Bapak dengan Bu Elea, kita bisa membuat surat perjanjian dan saya pasti akan dengan senang hati, menandatanganinya.” Mikaela menerbitkan senyum tulus hingga kedua matanya yang indah menyipit bagai bulan sabit ditengah malam. “Kalau begitu, saya pamit, Pak. Terima kasih karena Bapak tadi sudah membawa saya ke rumah sakit. Untuk tagihannya, Bapak bisa kirimkan melalui WA. Nanti pasti akan saya ganti uangnya. Mikaela memutar tubuhnya. Wanita itu telah siap untuk melangkah sebelum akhirnya tertahan sebab Arkanu yang menarik lengannya cepat, membuat tubuhnya yang lemah, berhadapan kembali dengan sang atasan. “Memangnya kamu siapa sampai bisa mengatur saya?” Eumpph!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN